Oleh: Busyro | Oktober 21, 2009

STATREGI PEMBELAJARAN PAI SLTA/ SLTP

STATREGI PEMBELAJARAN PAI SLTA/ SLTP

  1. I. PENDAHULUAN

Pendidikan (Islam) yang bertujuan untuk menginformasikan, mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai islami diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan segi kehidupan spiritual yang baik dan benar dalam rangka mewujudkan pribadi muslim seutuhnya. Untuk itu  perlu disusun strategi yang mantap, berupa langkah pembelajaran yang disusun secara sistematis dan terencana dan dapat pula berupa keteladanan guru yang berperan sebagai the life model bagi para peserta didiknya. Dewasa ini, dunia pendidikan seakan tiada hentinya menuai kritikan dari berbagai kalangan, yaitu tentang ketidakmampuannya dalam melahirkan alumni yang berkualitas manusia Indonesia seutuhnya seperti cita-cita luhur bangsa dan yang diamanatkan oleh Undang-undang Pendidikan itu sendiri yaitu “manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”.

  1. II. PERMASALAHAN

Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk membentuk perilaku dan kepribadian individu sesuai dengan prinsip-prinsip dan konsep Islam dalam mewujudkan nilai-nilai moral dan agama sebagai landasan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Akan tetapi, dalam realisasinya di lapangan menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, baik dalam proses maupun hasil pembelajaran siswa. Ada beberapa hal yang menjadi kendala, di antaranya:

1)            Rendahnya motivasi belajar siswa pada pembelajaran PAI;

2)            Materi pembelajaran PAI masih berorientasi pada kemampuan kognitif dan kurang dalam pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik);

3)            Terbatasnya sikap dan pemahaman guru agama dalam pengembangan pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student centered), sehingga pembelajaran masih berjalan secara konvensional; dan

4)            Terbatasnya sarana dan prasarana penunjang belajar.

Dalam hal ini secara jelas juga menjadi sasaran jangkauan pendidikan agama, karena bagaimanapun pendidikan agama merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional (umum), sekalipun dalam kehidupan bangsa Indonesia tampak sekali terbedakan eksistensinya secara struktual. Realitas membuktikan bahwa pendidikan agama dan pendidikan umum selama ini sering diberikan batasan pengertian sebagai berikut :

  1. Pendidikan agama yaitu penyelenggaraan pendidikan yang memberikan materi atau mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan umum yaitu penyelenggaraan pendidikan yang memberikan materi atau pelajaran umum.
  2. Pendidikan agama sebagai pendidikan pada madrasah atau sejenisnya, sedangkan pendidikan umum sebagai lembaga pendidikan umum seperti SD, SMP, SMA dan sejenisnya

Dari batasan yang dikemukakan tersebut, tanpaknya memberi kesan adanya “dikotomi” antara bidang studi agama dan bidang studi umum atau adanya perbedaan yang jelas antara sekolah umum dengan sekolah agama. Kenyataan tersebut semakin tanpak dengan keberadaan Departemen yang membina, yaitu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk lembaga pendidikan umum, dan Departemen Agama (Depag) untuk lembaga pendidikan agama atau madrasah dan sejenisnya.

Oleh karena itu perlu dikembangkan sebuah model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, kreatif, demokratis, kolaboratif dan konstruktif, salah satunya dengan pengembangan model pembelajaran kooperatif bukan hanya di sekolah-sekolah islam, tetapi model pembelajaran ini harus diterapkan di sekolah-sekolah umum dengan tujuan menjadikan peserta didik sebagai insan yang kamil di lingkungan masyarakat maupun dihadapan Allah SWT nanti.

.

  1. III. PEMBAHSAN
  2. A. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama adalah sebagian dari pendidikan nasional. Hal ini terbukti bahwa pendidikan agama menjadi mata pelajaran pokok yang wajib diberikan di sekolah-sekolah dalam wilayah Republik Indonesia. Dalam Pasal 11 ayat (6) Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. Selanjutnya penjelasan Pasal 11 ayat (6) tersebut menyebutkan “Pendidikan keagamaan diselenggarakan pada semua jenjang pendidikan”.

Pendidikan agama sebagai salah satu mata rantai dalam mencapai tujuan pendidikan khusus yaitu untuk menciptakan manusia yang berakhlak mulia, beriman, bertakwa sehingga terbentuk kepribadian seseorang menjadi insan kamil.

  1. B. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Setiap aktifitas manusia mempunyai tujuan, karena dengan adanya tujuan dapat mendorong manusia untuk lebih giat berusaha demi tercapainya tujuan yang ditetapkannya. Adanya pendidikan sesuai dengan tujuan hidup manusia. Yaitu persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Untuk mencapai tujuan pendidikan diperlukan adanya perencanaan kegiatan belajar mengajar yang matang. Pelaksanaan pendidikan yang mantap serta sarana pendidikan yang memadai yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan tersebut.

Pencapaian tujuan pendidikan Islam merupakan usaha-usaha dan kegiatan yang besar karena mempersiapkan bekal kehidupan dunia dan akhirat sekaligus mencakup keseimbangan jasmani dan rohani. Keseimbangan ini dapat disebut pembinaan kepribadian muslim. Adapun kepribadian yang menjadi tujuan Islam adalah kepribadian dimana keseluruhan aspek diatas sesuai dengan ajaran Islam. Kadang-kadang kepribadian ini juga disebut dengan taqwa, yang ditaati dengan mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Kepribadian orang-orang yang benar-benar bertakwa biasanya selalu menciptakan hubungan antara dengan Allah, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya.

Karena pada dasarnya tujuan pendidikan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kewajiban, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indra. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah, maupun bahasanya (secara perorangan maupun secara perkelompok), dan pendidikan ini mendorong semua aspek tersebut kearah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup.

Omar at-Taumi mengatakan, tujuan-tujuan individual yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam, keseluruhan hanya berkisar pada pembinaan pribadi muslim yang berpadu pada perkembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan sosial atau dengan lebih jelas lagi tujuan tersebut berkisar pada pembinaan warga negara muslim yang baik, yang percaya kepada Tuhan dan agamanya, sehat jasmani, berimbang dalam motivasi-motivasi emosi dan keinginan-keinginan. Sesuai dengan dirinya dan orang lain, bersenjatakan ilmu pengetahuan dan dasar akan masalah-masalah masyarakat bangsa dan zamannya, halus perasaan seninya dan sanggup merasakan keindahan dalam segala bentuk dan coraknya, sanggup menggunakan masa luangnya dengan bijaksana dan berfaedah, mengetahui hak dan kewajiban-kewajiban, memikul tanggung jawab terhadap diri, keluarga masyarakat bangsa dan kemanusiaan dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan kebolehan menghargai kepentingan kehidupan keluarga secara khusus dan bersedia memikul tanggung jawab dan berkorban untuk meneguhkan dan memperkuatkannya

Dari ketiga pendapat di atas bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mendidik anak-anak dan para pemuda baik dari segi fisik dan mental sehingga menjadi manusia yang sempurna pertumbuhan dan perkembangan serta mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat kelak. Dengan demikian jelaslah pendidikan agama bukanlah semata-mata untuk mencari aspek duniawiyah seperti anggapan sebagian orang, akan tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan dunia dan akhirat.

Berdasarkan uraian di atas bahwa, tujuan pendidikan agama adalah:

  1. Untuk menanamkan jiwa agama kepada anak-anak supaya mereka menjadi muslim yang sebenarnya, yaitu mendapat kebahagiaan dunia akhirat.
  2. Untuk membiasakan anak-anak berlaku akhlak yang baik serta membentuk jiwa kepribadian dan jiwa kemasyarakatan, mengerjakan apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang.
  3. C. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam memegang fungsi yang sangat penting dalam
pendidikan di Indonesia, baik bagi peserta didik maupun pengaruhnya bagi bangsa dan negara. Hal ini karena Pendidikan Agama memiliki kekuatan rohani yang mengikat bagi pemeluknya.

Fungsi Pendidikan Agama Islam antara lain :

  1. Dalam aspek kehidupan individual adalah untuk membentuk manusia
    Indonesia yang percaya dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
    dan menjadi warga negara yang baik.
  2. Dalam aspek kehidupan kemasyarakatan dan beragama adalah :
  • Melestarikan Pancasila dan melaksanakan ketentuan UUD 1945
  • Melestarikan asas pembangunan nasional khusus asas perikehidupan
    dalam keseimbangan
  • Melestarikan modal dasar pembangunan nasional yakni rohaniah dan
    mental berupa kepercayaan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang
    Maha Esa

Fungsi tersebut merupakan hal yang mendasar. Oleh karena itu apabila
dilaksanakan dengan baik, maka cita-cita nasional dan kondisi ideal yang
diharapkan oleh Negara Indonesia akan tercapai.

  1. D. Metode dan Strategi Pembelajaran PAI pada SLTP/ SLTA

Materi pelajaran yang hendak ditransfer kepada peserta didik melalui kegiatan pembelajaran hendaknya menggunakan metode dan strategi yang tepat. Ketepatan metode dan strategi sangat membantu siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode merupakan cara yang digunakan guru untuk menyampaikan materi, sedangkan strategi pembelajaran adalah langkah-langkah yang dipilih oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dengan demikian, antara metode dan strategi pembelajaran harus berjalan seiring dan saling membantu. Penggunaan suatu metode tanpa pemilihan strategi yang tepat akan membuat metode tersebut monoton dan membosankan, sebaliknya strategi tanpa metode tidak akan bisa berjalan. Bisaanya hambatan yang dihadapi guru adalah menyesuaikan  antara keduanya dengan materi pelajaran. Kadang metode yang dipilih sudah tepat, tetapi strategi yang digunakan kurang tepat, demikian seterusnya.

Pengembangan model pembelajaran kooperatif pada mata pelajaran Pendididikan Agama Islam memfokuskan pada masalah pengembangan model dengan menggunakan 5 domain bidang teknologi pembelajaran yang mencakup desain, pengembangan, penggunaan, manajemen, dan evaluasi untuk melihat keberhasilan penerapan model dan meningkatkan kemampuan siswa dalam proses dan hasil belajar baik secara individual maupun kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan antara sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran kooperatif, menunjukkan hasil belajar yang signifikan, dimana rata-rata prestasi belajar sesudah penerapan pembelajaran kooperatif lebih besar dari nilai sebelumnya. Hal ini didukung pula oleh peningkatan aktivitas dalam proses pembelajaran, siswa lebih bermotivasi dan memiliki keberanian dalam mengungkapkan pendapat, pertanyaan dan koreksi, tumbuhnya sikap kritis, kolaboratif, demokratis dan inovatif dalam menyikapi persoalan yang dihadapi pada saat pembelajaran. Di lain pihak, kreativitas dan performansi guru menunjukkan perbaikan yang berarti baik dalam menyusun perencanaan, penggunaan teknologi pembelajaran, pelaksanaan maupun pengembangan sistem evaluasi yang dilakukan. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif dapat dijadikan salah satu alternatif pendekatan yang cocok untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLTP/ SLTA.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok kecil, mempelajari materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif. Model pembelajaran ini menganut prinsip saling ketergantungan, tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses secara kelompok.

. Apa yang ditemukan di lapangan penelitian, yaitu kekurangmampuan guru untuk memadukan metode dan strategi dengan baik. Hampir semua guru hanya menggunakan metode  mengajar secara monoton. Hal tersebut dikarenakan kekurangtahuan mereka tentang ilmunya, yang mana semestinya dapat dipelajari mereka dari buku-buku yang ada. Atau pihak sekolah bisa mengadakan workshop dan semacamnya bagi guru-guru tersebut untuk mengenalkan dan mempelajari serta meningkatkan metode dan strategi pembelajaran yang akan digunakan. Apa yang ditemukan pada hampir semua sekolah yang diteliti, kaitannya dengan metode dan strategi pembelajaran adalah penggunaan metode “klasik” seperti ceramah, Tanya-jawab dan penugasan. Menariknya, di antara guru-guru tersebut ada juga yang menggunakan cara ketika siswanya mulai jenuh dan tidak memperhatikan pelajaran.

Cara tersebut menujukkan cukup jitu untuk menarik perhatian dan membangkitkan motivasi siswa. Sedangkan strategi yang umumnya dijumpai adalah guru memulai dengan membacakan materi dan diikuti oleh siswa, lalu menjelaskan materi kemudian diselingi dengan Tanya-jawab yang diulang-ulang supaya siswa dapat menghafalnya. Kadang-kadang ada juga guru yang menuliskan materi pelajaran di papan tulis, yang kemudian dibacanya  dan  siswa diminta membacanya baik secara individu maupun secara berkelompok.

Ketika pembelajaran berlangsung dalam kelas, guru PAI tersebut ada yang mengajar dengan “santai” dan tanpa beban, namun ada juga guru yang sangat repot dan kesusahan dalam mengendalikan kelas. Berdasarkan pengamatan, ternyata keadaan itu sangat tergantung dari kepiawaian guru dalam penggunaan bahasa, memilih metode dan strategi yang sesuai untuk menyampaikan pelajaran. Karena di antara para guru PAI ada yang memiliki kedekatan emosional secara alami dengan siswa, dan sebaliknya ada guru yang susah untuk membangun kondisi tersebut, yang pada akhirnya berakibat pada kekacauan kelas.

Terlepas dari metode apapun yang dipilih oleh seorang guru, yang penting diperhatikan dalam pembelajaran dan transfer ajaran agama terhadap anak adalah pembisaaan, keteladan dan transinternalisasi. Dalam hal ini anak dibisaakan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan atau dibisaakan dalam suasana keagamaan yang diiringi dengan keteladanan. Hal ini juga karena mengingat pesan UU SISDIKNAS yang mengatakan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

  1. IV. KESIMPULAN

Setiap aktifitas manusia mempunyai tujuan, karena dengan adanya tujuan dapat mendorong manusia untuk lebih giat berusaha demi tercapainya tujuan yang ditetapkannya. Adanya pendidikan sesuai dengan tujuan hidup manusia. Yaitu persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Untuk mencapai tujuan pendidikan diperlukan adanya perencanaan kegiatan belajar mengajar yang matang. Pelaksanaan pendidikan yang mantap serta sarana pendidikan yang memadai yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan tersebut.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok kecil, mempelajari materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif. Model pembelajaran ini menganut prinsip saling ketergantungan, tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses secara kelompok.

Materi pelajaran yang hendak ditransfer kepada peserta didik melalui kegiatan pembelajaran hendaknya menggunakan metode dan strategi yang tepat. Ketepatan metode dan strategi sangat membantu siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode merupakan cara yang digunakan guru untuk menyampaikan materi, sedangkan strategi pembelajaran adalah langkah-langkah yang dipilih oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dengan demikian, antara metode dan strategi pembelajaran harus berjalan seiring dan saling membantu. Penggunaan suatu metode tanpa pemilihan strategi yang tepat akan membuat metode tersebut monoton dan membosankan, sebaliknya strategi tanpa metode tidak akan bisa berjalan. Bisaanya hambatan yang dihadapi guru adalah menyesuaikan  antara keduanya dengan materi pelajaran. Kadang metode yang dipilih sudah tepat, tetapi strategi yang digunakan kurang tepat, demikian seterusnya.

Oleh: Busyro | Oktober 4, 2009

Kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang

BAB I

PENDAHULUAN

Pemberlakuan Undang-Undang Repblik Indonesia No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menuntut adanya pelaksanaan otonomi daerah dalam pelaksanaan pendidikan. Pengolahan pendidikan yang semula sentralistik menjadi desentralistik. Hal ini didukung dengan diberinya wewenang kepada setiap sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri yang mengacu pada Undang-Undang No/ 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional.

Desentrelisasi pendidikan dalam tingkat satuan pendidikan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dan kondisi daerah. Hal ini perlu segera ditindak lanjuti oleh setiap satuan pendidikan. Bentuk nyata dari desentralisasi ini adalah diberikannya kewenangan kepada sekolah untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pemangku kepentingan (stake holder).

Kurikulum yang disusun oleh sekolah atau dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam proses penyusunannya akan melibatkan komite madrasah sebagai cerminan dari stake holder yang ada. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan akan tersusun suatu kurikulum yang mempresentasikan kebutuhan dan kemampuan sekolah yang bersangkutan.

Konsekuensi dari KTSP tersebut adalah lahirnya kurikulum pada satuan tingkat pendidikan yang beragam. Hal sudah pasti akan terjadi mengingat bahwa kondisi sekolah satu dengan yang lain memiliki ciri dan budaya kerja yang berbeda. Meskipun demikian, salah satu komponen  penting tetap menjadi acuan bersama adalah Keputusan Menteri No. 22 dan 23 tahun 2007 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.

Dengan adanya acuan peraturan tersebut keberagaman akan tetap terakomodir secara harmonis dan semua menuju serta menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional.

  1. A. Dasar Pemikiran

Perubahan besar yang terjadi pada masyarakat kota Kudus, khususnya, masyarakat dan bangsa Indonesia serta masyarakat dan bangsa-bangsa di dunia pada umumnya, menuntut adanya penyesuaian-penyesuaian tertentu dalam bidang pendidikan. Pendidikan tidak cukup lagi diselenggarakan secara tradisional, berjalan apa adanya tanpa adanya target yang jelas dan tidak adanya prosedur pencapaian target yang terbukti efektif dan efesien. Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah NU Nurul Huda Gulang merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan pengolahan kurikulum di tingkat satuan pendidikan yang didesain untuk menjamin berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif bagi berkembangnya potensi anak didik, sehingga mereka mampu hidup mandiri sekaligus mampu hidup ditengah-tengah masyarakat yang majemuk.

Dalam konteks madrasah, agar mutu lulusan MI NU Nurul Huda Gulang mempunyai keunggulan yang kometitif dan komparatif, maka kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang dirancang dan dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Hal ini dilakukan agar MI NU Nurul Huda Gulang secara kelembagaan dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, Ilmu Pengetahuan, teknologi, dan seni, serta tuntutan disentralaisasi dalam rangka memperkukuh identitas kepribadian siswa didik yang unggul,. Berwawasan kebangsaan, dan berakhlaqul karimah dilandasi oleh nilai-nilai keislaman. Dengan cara seperti MI NU Nurul Huda Gulang, sebagai lembaga pendidikan dasar berciri khas agama Islam ala Ahlus Sunah wal Jama`ah, yang telah mendapat kepercayaan dari masyarakat sekitar, tidak akan kehilangan relevansi program penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum yang dikembangkan di MI NU Nurul Huda Gulang akan terus dikaji secara periodik agar senantiasa sesuai dan sejalan dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat yang senantiasa dinamis.

  1. B. Landasan Hukum

Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah NU Nurul Huda Gulang disusun dengan mengacu pada landasan yuridis formal yang berlaku di wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia, yaitu :

  1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanal, yaitu Pasal 1 ayat (9); pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4) ; pasal 32 ayat (1), (2), (3); pasal 35 ayat (2); pasal 36 ayat (1), 92), (3), (4); pasal 37 ayat (1), (2), (3); pasal 38 ayat (1), (2).
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu : pasal 1 yat (5), 913), (14), 915);m pasal 5 ayat (1), 920, pasal 6 ayat (6); pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); pasal 8 ayat (1), (2), (3); pasal 10 ayat (1), (2), (3) ; pasal  11 ayat (1), (2), (3), (4); pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4) ; pasal 14 ayat (1), (2), (3) ; pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5) ; pasal 17 ayat (1), (2), (3); pasal 18 ayat (1), (2), (3); pasal 20;
  3. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar jenjang pendidikan Dasar dan Menengah;
  4. Keputuasan Menteri Pedidikan Nasional No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah;
  5. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 tahun 2006 tentang Pengelolaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan;
  6. Keputusan Derektorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen agama RI tentang Penyempurnaan Standar Kompetensi Madrasah Ibtidaiyah tahun 2006.
  1. C. Pengertian
    1. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang Sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
    2. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tetentu.
    3. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
    4. Kurikulum tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
    5. Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berfikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dimiliki oleh peserta didik.
    6. Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketrampilan; Standar Kompetensi Lulusan meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau seluruh kelompok mata pelajaran.
    7. Satandar Kompetensi Mata Pelajaran adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang diharapkan dicapai pada setiap dan atau semester untuk mata pelajaran tertentu.
    8. Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan/ atau semester, standar kompetensi terdiri atas sejumlah kompetensi dasar sebagai acuan baku yang harus dicapai dan berlaku secara nasional.
    9. Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi.

10.  Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik sel;ama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

11.  Permulaan tahun ajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan.

12.  Minggu efektif  belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap ajaran pada setiap satuan pendidikan.

13.  Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan didik.

14.  Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakannya kegaiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum (termasuk hari-hari besar nasional), dan hari libur khusus.

15.  Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik di MI NU Nurul Huda Gulang dalam kegiatan pembelajaran. Susunan mata pelajaran tersebut terbagi dalam lima kelompok yaitu kelompok mata pelajaran agama dan akhlaq mulai; kewarganegaraan dan kepribadian; Ilmu Pengetahuan dan teknologi, estetika; jasmani, olah raga dan kesehatan.

16.  Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam meteri pokok, kegaiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

17.  Rencana Pelakasanaan Pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam sialbus.

BAB II

PROFIL MI NU NURUL HUDA

I.      Identitas Madrasah

1.  Nama Madrasah          : MI NU Nurul Huda

2.  Alamat Madrasah         :

a.  Jalan                      :  Jl. Raya Gulang

b.  Desa                      :  Gulang

c.  Kecamatan            :  Mejobo

d.  Kabupaten             :  Kudus

d.  Provinsi                 :  Jawa Tengah

e.  Telepon                 :  ( 0291 ) 4248868

f.  Kode Pos               :  59381

g.  No. Rekening         :  33-22-2856, atas nama MI NU NURUL HUDA
3.  Nomor Statistik            :  112331905067

4.  Pendiri Madrasah         :  Pengurus Madrasah

5.  Tahun berdiri                :  1973

6.  Status                           :  Terakreditasi B

7.  Ijin Operasional            :  Nomor : Kw.11.4/4/PP.03.2/623.19.41/2006

II.    Visi, Misi Dan Tujuan

Visi Madrasah :

Terwujudnya Generasi Islam yang terampil Qiro’ah, tekun Beribadah, Berakhlak Karimah dan Unggul dalam Prestasi

Misi  Madrasah :

  1. Menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dalam pencapaian prestasi akademik dan non akademik.
  2. Mewujudkan pembelajaran dan pembiasaan dalam mempelajari Al Qur’an dan menjalankan ajaran Islam.
  3. Mewujudkan pembentukan karakter Islami yang mampu mengaktualisasikan diri dalam masyarakat.
  4. Meningkatkan pengetahuan dan profesionalisme tenaga kependidikan sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan.
  5. Menyelenggarakan tata kelola madrasah yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel.
III. Tujuan  Madrasah :
  1. Mengoptimalkan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran Aktif, (PAKEM, CTL)
  2. Mengembangkan potensi akademik siswa dengan nilai-nilai rata-rata 7,5.
IV. Target Madrasah pada Tahun 2010
  1. Bidang Kurikulum dan pembelajaran

1)          Terselenggaranya proses belajar mengajar yang aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan inovatif.

2)          Memiliki kemampuan membaca Al-Qur`an dengan lancar dan benar pada tahun keempat

3)          Memiliki kemampuan menghafal 25 surat pendek dan 10 hadits tentang amal saleh, prsaudaraan, kebersihan, shalat berjama`ah, dan menghormati orang tua.

4)          Memiliki kebiasaan melaksanakan shalat lima waktu secara tertib dan berjama`ah.

5)          Memiliki budaya menghargai dan menghormati orang tua, guru dan menyayangi saudara atau teman.

6)          Meningkatnmya kriteria ketuntasan minimal menjadi 80 pada setiap mata pelajaran

7)          Memiliki daya saing untuk diterima di sekolah unggulan di kota Kudus.

  1. Taget Pengembangan Sumber Daya Manusia

1)          Meningkatna profesionalisme guru

2)          Meningkatnya kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran (instructional technology)

3)          Meningkatnya kemampuan membaca Al-Qur`an guru dan karyawan

  1. Target Bidang Sarana Prasarana

1)          Terpenuhinya media pembelajaran yang standar

2)          Terciptanya lingkuyngan madrasah yang aman dan nyaman serta mendukung pembelajaran

3)          Tersedianya sarana pendukung pembelajaran

4)          Tertatanya sistem informasi madrasah yang standar.

  1. Target Bidang keuangan dan Kepegawaian

1)          Terwujudnya  pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel

2)          Meningkatnya sumber pendanaan madrasah sealain dari anggaran Negara (APBN/ APBD)

3)          Meningkatnya kesejahteraan warga madrasah

  1. Bidang Kesiswaan

1)          Tercapainya peringkat tiga besar lomba mata pelajaran baik Kecamatan maupun Kabupaten

2)          Tercapainya prestasi olah raga dan seni tiga besar baik tingkat Kecamatan maupun Kabupaten

3)          Tercapainya peserta didik mampu mengaplikasikan komputer

BAB III

STANDAR KOMPETENSI

Standar Kompetensi  Lulusan ( SKL ) MI NU Nurul Huda Gulang adalah bagian dari standar yang merupakan kriteria kompetensi lulusan minimal yang berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan SKL, pembelajaran di MI NU Nurul Huda Gulang akan memiliki patok mutu (benchmark) baik bersifat evaluasi mikro seperti kualitas proses dan kualitas produk pembelajaran, maupun bersifat evaluasi makro seperti keefektifan dan efesiensi suatau program pendidikan, sehingga ke depan pendidikan di MI NU Nurul Huda Gulang akan melahirkan standar mutu yang dapat dipertanggungjawabkan pada setiap aspek pendidikan. SKL yang dijabarkan ke dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran digunakan sebagai pedoman penilaian. Penyusunan SKL Satuan Pendidikan merupakan agenda prioritas karena menjadi rujukan dalam penyususnan standar-standar pendidikan lainnya.

  1. I. Standar Kompetensi lulusan MI NU Nurul Huda Gulang

Melalui serangkaian pembelajaran  yang ditempuh selama mengikuti pendidikan di MI NU Nurul Huda, seorang lulusan MI NU Nurul Huda diharapkan akan mempunyai sejumlah kompetensi yang mencerminkan hasil belajar di MI NU Nurul Huda. Profil seorang lulusan MI NU Nurul Huda diharapkan akan memiliki sejumlah kompetensi sebagai berikut :

  1. Dapat menjalankan ajaran agama Islam sesuai dengan tahap perkembangan anak;
  2. Dapat mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendidri;
  3. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya;
  4. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya,
  5. Dapat menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif;
  6. Menunjukkan kemampuan berfikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/ pendidik;
  7. Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya;
  8. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari;
  9. Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar;
  10. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan;
  11. Menunjukkan kecintaan kebanggaan terhadap bangsa, Negara, dan tanah air Indonesia;
  12. Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal;
  13. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang;
  14. Berkomunikasi secara jelas dan santun;
  15. Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan dan teman sebaya;
  16. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis;
  17. menunjukkan ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung;
  1. II. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran

Standar Kompetensi Kelompok mata Pelajaran (SK-KMP) adalah kualifikasi kemampuan lulusan pada setiap kelompok mata pelajaran yang mencakup pelajaran Agama dan Akhlaq Mulia, Kewarganegaraan dan Kepribadian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Estetika, dan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SK-KMP) dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran sebagai berikut :

  1. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlaq Mulia Bertujuan untuk mmebentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlaq mulia. Tujuan tersebut tercapai melalui muatan dan atau kegaiatan keagamaan, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.
  2. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi menusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/ atau kegiatan agama, akhlaq mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani.
  3. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. Tujuan ini dicapai melaui muatan dan/ atau kegaiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, ketrampilan/ kejuruan, dan muatan lokal yang relevan.
  4. Kelompok mata pelajaran estetika bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang meliki rasa seni dan pemahaman budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/ atau kegiatan bahasa, seni dan budaya, ketrampilan, dan muatan lokal yang relevan.kelompok mata pelajaran Jasmani, Olah Raga, dan kesehatan bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik agar seahat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportifitas. Tujuan ini deicapai melalui muatan dan atau kegiatan pendidikan jasmani, olahraga, pendidikan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relavan
  5. Adapun Standar Kompetensi Kelompok mata Pelajaran (SK-KMP) untuk masing-masing satuan pendidikan selengkapnya adalah sebagai berikut :
  6. 1. Agama dan Akhlaq Mulia

Satandar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran Agama dan Akhlaq Mulia adalah :

  1. menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai denagn tahap perkembangan anak
  2. menunjukkan sikap jujur dan adil
  3. mengenal keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan social ekonomi di lingkungan sekitarnya.
  4. Berkomunikasi secara santun yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
  5. Menunjukkan kebiasan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya.
  6. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
  1. 2. Kewarganegaraan dan Kepribadian

Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran Kewarganegaraan dan Kpribadian adalah :

  1. Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, Negara, dan tanah air Indoesia.
  2. Mematuhi aturan-aturan social yang berlaku dalam lingkungannya
  3. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan social ekonomi di lingkungan sekitarnya.
  4. Menunjukkan kecintaan dakepedulian terhadap lingkungan.
  5. Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
  6. Menunjukkan ras keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya.
  7. Berkomunikasi secara santun
  8. Menunjukkan kegemaran membaca
  9. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, serta dapat memanfaatkan waktu luang
  10. Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendidri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya.
  11. Menunjukkan kemampuan mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya lokal.
  1. 3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Standar Kom,petensi Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah :

  1. Mengenal dan menggunakan berbagai informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.
  2. Menunjukkan kemampuan berfikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru. Pendidik.
  3. Menunjukkan raa keingintahuan yang tinggi.
  4. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan social dim lingkungan sekitar.
  6. Menunjukkan ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.
  7. Menunukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
  1. 4. Estetika

Standar kom,petensi Kelompok Mata Pelajaran Estetika ada;lah memnunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya.

  1. 5. Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan

Satandar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan adalah :

  1. Menunjukkan kebasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
  2. Mengenal berbagai informasi tentang potensi sumber daya local untuk menunjang hidup bersih, sehat, bugar, aman , dan memanfaatkan waktu luang.
  1. III. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator Pencapaian Hasil Belajar

Kompetensi Dasar m,erupakan sejumlah kemampuan yang harus dim,iliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi. Mengacu pada standar kompetensi dan ,kompetensi dasar, maka disusunlah indicator hasil belajar untuk setiap mata pelajaran. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dsar pada msing-masing mata pelajaran secara rinci dilihat pada bagian lampiran di depan.

BAB IV

STRUTUR DAN MUATAN KURIKULUM

  1. A. Strutur Kurikulum

Struktur kurikulum Mi NU Nurul Huda merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik selama menempuh pendidikan di MI NU Nurul Huda melalui kegiatan pembelajaran. Susunan mata pelajaran tersebut terbagi menjadi lima kelompok mata pelajaran, yaitu : (1) Mata Pelajaran dan Akhlaq Mulia, (2) Kewarganegaraan dan Kepribadian, (3) Ilmu Pengetahuian dan Teknologi, (4) Estetika, (5) Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan.

Struktur MI NU Nurul Huda meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai kelas satu sampai denagn kelas enam.berdasarkan Standar Isa dan Stasndar Kompetensi Kelulusan, ketentuan pembelajaran pada MI NU Nurul Huda diatur sebagai berikut :

  1. Kurikulum MI NU NUrul Huda memuat 14 mata pelajaran,  2 muatan lokal, dan 3 kegiatan pengembangan diri.
  2. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS merupakan IPA terpadu dan IPS terpadu
  3. Pembel;ajaran di kelas I sampai denagn kelas III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan kelas IV sampai denagn kelas VI melalui pendekatan mat pelajran.
  4. ASlokasi waktu satu jam pelajaran adalah 35 menit.
  5. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran adalah 36 minggu.

STRUKTUR KURIKULUM

MI NU NURUL HUDA

NO

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

I

II

III

IV

V

VI

A. Mata Pelajaran

T

E

M

A

T

I

K

1.

Qur`an Hadits

2.

Aqidah Akhlaq

3.

Fiqih

4.

Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

5.

Bahasa Arab

6.

Bahassa Indonesia

7.

Matematika

8.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

9.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

10.

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

11.

Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan

12.

Seni Budaya dan Ketrampilan

B. Muatan Lokal

1.

Bahasa Jawa

2.

Bahasa Inggris

3.

Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK)

C. Pengembangan Diri

1.

Upacara/ Sholat Dhuha

2.

Perpustakaan

3.

Tadarus Al-Qur`an

4.

Pengembangan Bakat dan Minat

Jumlah

  1. B. Muatan Kurikulum

Muatan Kurikulum pada MI Nu Nurul Huda meliputi sebagai berikut :

  1. 14 mata pelajaran
  2. 2 muatan local
  3. 3 kegiatan pengembangan minat dan bakat
  1. Jenis Mata Pelajaran

Jenis Mata Pelajaran di MI NU Nurul  Huda meliputi :

  1. Al-Qur`an – Hadits
  2. Aqidah Akhlaq
  3. Fiqih
  4. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
  5. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
  6. Bahasa Arab
  7. Bahasa Indonesia
  8. Matematika
  9. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

10.  Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

11.  Seni Budaya dan Ketrampilan (Senbudket)

12.  Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan (Penjaskes)

13.  Muatan Lokal :

  1. Bahasa Jawa
  2. Bahasa Inggris
  3. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
  1. D. Tujuan Setiap Mata Pelajaran
  2. 1. Al-Qur`an Hadits : Memabaca, menghafal, menulis, mengartikan, dan memahami, surat-surat pendek dalam Al-Qur`an mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Nass serta hadits yang berhubungan dengan amaliyah sehari-hari.
  1. 2. Aqidah Akhlaq : Mengenal dan meyakini enam spek rukun iman, berakhlaqul karimah, menghindari akhlaqul madzmumah dalam kehidupan sehari-hari.
  1. 3. Fiqih : Mengenal dan melaksanakan rukun islam sampai ibadah puasa serta mengenal tata cara ibadah haji. Mengenl dan membiasakan diri makan dn minum yang halal.
  1. 4. Sejarah Kebudayaan Islam : Menceritakan kisah-kisah Nabi, sahabat Nabi serta mampu meneladani dalam kehidupan sehari-hari. Menceritakan kisah orang-orang tercela dalam kehidupan Nabi.
  1. 5. Bahasa Arab :
  2. a. Mendengarkan
  • Memahami wacana lisan berbentuk perintah, penjelasan, petunjuk, pesan, berita, deskripsi berbagai peristiwa dan benda di sekitar.
  1. b. Bebicara
  • Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegaiatan perkenalan, tegur sapa, percakapan sederhana, dan wawancara.
  1. c. Membaca
  • Mampu membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk dan teks secara sederhana.
  1. d. Menulis
  • Melakukan berbagai jenis kegiatan meulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana.
  1. 6. Pendidikan Kewarganegaraan

ü      Menerapkan hidup rukun dalam perbedaan

ü      Memahami dan menerapkan hidup rukun di rumah dan sekolah

ü      Memahami kewajiban sebagai warga dalam keluarga dan sekolah

ü      Memahami hidup tertib dang tong royong

ü      Menampilkan sikap cinta lingkungan dan demokratis

ü      Menampilkan perilaku jujur, disiplin, senang bekerja dan anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai pancasila

ü      Memahami sistem pemerintahan baik tingkat daerah maupun pusat

ü      Memahami makna keutuhan Nagara Kesatuan Republik Indonesia dengan kepatuhan terhadap undang-undang, peraturan, kebiasaan, adapt istiadat dan menghargai keputusan bersama.

ü      Memahami dan menghargai nilai-nilai kejuangan bangsa

ü      Memahami hubungan Indonesia dengan Negara tetangga dan politik luar negeri.

  1. 7. Bahasa Indonesia
  2. a. Mendengarkar
  • Memahami wacana lisan berbentuk perintah, penjelasan, petunjuk, pesan, pengumuman, berita, deskripsi berbgai peristiwa dan benda di sekitar, serta karya sastra berbentuk dongeng, puisi, cerita, drama, pantun, dan cerita rakyat.
  1. b. Berbicara
  • Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan perkenalan, tegur sapa, percakapan sederhana, wawancara, percakapan telepon, diskusi, pidato, deskipsi,peristiwa dan benda di sekitar, memberi petunjuk, deklamasi, cerita, pelaporan hasil pengamatan, pemahaman isi buku dan berbagai karya sastra untuk anak berbagai karya sastra untuk anak berbentuk dongeng, pantun, drama, dan puisi.
  1. c. Membaca
  • Menggunakakn berbagai jenis membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan, cerita, dan drama.
  1. d. Menulis
  • Melakukan berbagai jenis kegiataan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan seerhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, paraphrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.
  1. 8. Matematika
  • Memahami konsep bilanagan bulat dan pecahan, operasi hitung dan sifat-sifatnya, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
  • Memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur-unsur dan sifat-sifatnya, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupansehari-hari.
  • Memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu, kecepatan, debit, serta pengaplikasikannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
  • Memahami konsep koordinat untuk menentukan letak benda dan penggunaannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
  • Memahami konsep pengumpulan data, penyajian data dengan label, gambar dan grafik (diagram), mengurutkan data, rentangan data, rerata hitung, modus, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
  • Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan.
  • Memiliki kemampuan berpikir logis, kritis dan kreatif.
  1. 9. Ilmu Pengetahuan Alam
  • Melakukan pengamatan terhadap gejala alam dan menceritakan hasil pengamatannya secara lisan dan tertulis.
  • Memahami penggolongan hewan dan tumbuhan, serta manfaat hewan dan tumbuhan bagi manusia, upaya pelestariannya, dan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  • Memahamii bagian-bagian tubuh pada manusia, hewan, dan tumbuhan, serta fungsinya dan perubahan pada makhluk hidup.
  • Memahami beragam sifat benda hubungannya dengan penyusunnya, perubahan wujud benda, dan kegunaannya.
  • Memahami berbagai bentuk energi, perubahan dan manfaatnya.
  • Memahami matahari sebagai pusat tata surya, kenampakan dan perubahan permukaan bumi, dan hubungan peristiwa alam denagn kegiatan manusia.

10. Ilmu Pengetahuan Sosial

  • Memahami identitas diri dan keluarga, serta mewujudkan sikap saling menghormati dalam kemajemukan keluarga.
  • Mendeskripsikan kedudukan dan peran anggota dlam kelurga dan lingkungan tetangga, serta kerja sama diantara keduanya.
  • Memahami sejarah, kenampakan alam dan keragaman suku bangsa di lingkungan kabupaten/ kota dan provinsi.
  • Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah nasional, kergaman suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
  • Menghargai peranan tokoh pejuang dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
  • Memahami perkembangan wilayah Indonesia, keadaan sosial Negara di Asia Tenggara serta benua-benua.
  • Mengenal gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan Negara tetangga, serta dapat melakukan tindakan dalam menghadapi bencana alam.
  • Memahami peranan Indonesia di era global.

11. Seni Rupa dan Ketrampilan

  1. a. Seni Rupa
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan keartistikan karya seni rupa terapan melalui gambar ilustrasi dengan tema benda alam yang ada di daerah setempat.
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan keartistikan karya seni rupa murni melalui pembuatan relief dari bahan plastisin/ tanah liat yang ada di daerah setempat.
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan keunikan karya seni rupa Nusantara dengan motif hias melalui gambar dekoratif dan ilustrasi bertema hewan, manusia dan kehidupannya serta motif hias dengan teknik batik.
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan keunikan karya senii rupa Nusantara dengan motif hias melalui gambar dekoratif dan ilustrasi dengan tema babas.
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan keunikan karya seni rupa Nusantara melalui pembuatan benda kreatif yang sesuai dengan potensi daerah setempat.
  1. b. Seni Musik
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik dengan memperhatikan dinamika melaui berbagai ragam lagu wajib dan daerah dengan iringan berbagai alat musik sederhana daerah setempat.
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik dengan ansambel sejenis dan gabungan terhadap berbagai musik/ lagu wajib, daerah dan Nusantara.
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik dengan menyanyikan lagu wajib, daerah dan Nusantara dengan memainkan berbagai alat musik.
  1. c. Seni Tari
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni tari dengan memperhatikan simbol dan keunikan gerak, busana, dan perlengkapan tari daerah setempat.
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni tari dengan memperhatikan simbol dan keunikan gerak, busana, dan perlengkapan tari Nusantara.
  • Mengapresiasi dan mengekspresikan perpaduan karya seni tari dan musik Nusantara.
  1. d. Ketrampilan
  • Mengapresiasi dan membuat karya kerajinan daerah setempat dengan teknik konstruksi.
  • Mengapresiasi dan membuat karya kerajinan dan benda permainan dengan teknik meronce dan macramé.
  • Mengapresiasi dan membuat karya kerajinan anyaman dengan menggunakan berbagai bahan.
  • Mengapresiasi dan membuat karya benda mainan beroda dengan menggunakan berbagai bahan.

12. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan SD/ MI

  • Mempraktikkan gerak dasar lari, lompat, dan jalan permainan sederhana serta nilai-nilai dasar sportivitas seperti kejujuran, kerjasama, dan lain-lain;
  • Mempraktikkan gerak ritmik meliputi senam pagi, senam kesegaran jasmani (SKJ), dan aerobik;
  • Memprktikkan gerak ketangkasan seperti ketangkasan dengan dan tanpa alat, serta senam lantai;
  • Mempraktikkan gerak dasar renang dalam berbagai gaya serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya;
  • Mempraktikkan latihan kebugaran dalam bentuk meningkatkan daya tahan kekuatan otot, kelenturan serta kondisi otot;
  • Mempraktikkan berbagai ketrmpilan gerak dalam kegiatan penjelajahan di luar sekolah seperti perkemahan, piknik, dan lain-lain;
  • Memahami budaya hidup sehat dalam bentuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengenal makanan sehat, mengenal berbagai penyakit dan pencegahannya serta menghindarkan diri dari narkoba.
  1. E. Pengaturan beban Belajar

Kelas

Jampel tiap tatap muka

Jml Jampel tiap Minggu

Minggu efektif tiap tahun

Waktu belajar tiap tahun

Jml Jam dalam satu tahun (@ 60 menit)

Ket.

BAB V

MUATAN LOKAL

Kurikulum Muaan Lokal dimaksudkan untuk menjembatani antara kebutuhan keluarga dan masyarakat dengan penididkan nasional. Oleh karena itu, isi, sumber materi, dan strategi disesuaikan dengan keadaan dan kebudayaan masyarakat dan lingkungan di sekitar kota Kudus.

  1. 1. Bahasa Daerah (Bahasa Jawa)
    1. a. Dasar Pemikiran

Bahasa merupakan sarana untuk saling berkomunikasai, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, serta untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan apresiasi sastra. Mata pelajar Bahasa Jawa adalah program pengejaran bahsa untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Jawa serta sikap positif Bahsa Jawa.

Kota Kudus merupakan salah satu kota besar di Provinsi Jawa Tengah yang mayoritas penduduknya penutur bahsa Jawa menempati urutan teratas dibandingkan penutur bahasa lain. Bahsa Jawa telah digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian penutur bahasa dan penggunaannya telah mencakup pada seluruh lapisan strata sosial masyarakat kota Kudus. Oleh karena itu, para siswa perlu memperoleh pembelajaran bahasa Jawa agar mampu berkomunikasi dan memahami keanekaragaman budaya yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat yang ada di sekitarnya. Dengan demikian akan tumbuh dalam dirinya upaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya luhur yang dianut oleh masyarakat di kota Kota Kudus.

  1. b. Fungsi

Pembelajaran Bahasa Jawa berfungsi sebagai :

1) Sarana peningkatan pengetahuan dan ketrampilann berbahasa jawa untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Jawa dalam rangka kelangsungan pembangunan bangsa.

2) Sarana peningkatan dan ketrampilan berbahasa Jawa untuk mewujudkan dan mengembangkan pengetahuan tentang sastra

3) Sarana pembinaan pemakaian dan penyebarluasan bahsa Jawa yang baik untuk berbagai keperluan yang menyangkut berbagai masalah.

4) Sarana pengembangan penalaran

5) Sarana pengembangan budi pekerti luhur.

  1. c. Tujuan

1) Siswa menghargai dan membanggakan bahsa Jawa sebagai bahsa daerah dan berkewajiban mengembangkan dan melestarikannya.

2) Siswa memahami bahasa Jawa dari segi bentuk, makna, dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan misalnya, di sekolah, di rumah, di masyarakat, dengan baik dan benar.

3) Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar untuk meningkatkan ketrampilan, kemampuan intelektual (berfikir kretif, menggunakan akal sehat, menerapkan kemampuan yang berguna, menggeluti konsep abstrak, dan memecakan masalah), kematangan emosional dan sosial.

4) Siwa dapat bersikap lebih positif dalam tata kehidupan sehari-hari dalam lingkungannya.

  1. d. Ruang Lingkup

Ruang luingkup mata pelajaran bahasa Jawa meliputi pengausaan kebahsaan, kemampuan memahami, mengapresiasi sastra, dan kemampuan menggunakan bahsa Jawa, yang dijabarkan dalam aspek-aspek kebahsaan (mendengarkan, berbicara, mambaca, menulis, dan apresiasi sastra.

  1. e. Standar Kompetensi Bahasa Jawa

1) Mendengarkan

  • Memahami wacana lisan berbentuk perintah, penjelasan, petunjuk, pesan, pengumuman, berita, deskripsi berbagai peristiwa dan benda di sekitar, serta karya sastra berbentuk dongeng, puisi, cerita, drama, pantun, dan cerita rakyat.

2) Berbicara

  • Menggunakan wacana lisan utuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan perkenalan, tegur sapa, perckapan sederhana, wawancara, percakapan telepon, diskusi, pidato, deskripsi peristiwa dan benda di sekitar, memberi petunjuk, deklamasi, cerita, pelaporan hasil pengamatan, pemahaman isi buku dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk dongeng, pantun, drama, dan puisi.

3) Membaca

  • Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan, cerita, dan drama .

4) Menulis

  • Melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiaran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana,petunjuk surat, pengumuman, dialog, formulis, teks pidato, laporan, ringkasan, prafase serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk ceriata, puisi, dan pantun.
  1. 2. Bahasa Inggris
    1. a. Dasar Pemikiran

Bahasa memiliki pesan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang stady. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahsa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemamapuan analisis dan imaginative yang ada dalam dirinya.

Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomikasi adalah memahm,I dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaa, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yag utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/ atau meghasilkan teks lisan dan/ atau tulis yang direalisasikan dalam empat ketrampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat ketrampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahsa Inggris pada tingkat literasi tertentu.

Timgat literasi mencakup performative, functional, informastional, dan epistemic. Pada tingkat performative, orang mampumembaca, menulis, mendengarkan, dan berbica dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat Functional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperto membaca surat kabar, nabual atau petunjuk. Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan f\engan kemampuan berbahasa, sedangkan pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran (Wells,1987)

  1. b. Standar kompetensi

1) Mendengarkan (Listening)

  • Memahami instruksi, informasi, dan cerita sangat sedehana yang disampaikan secara lisan dalam konteks kelas, sekolah, dan lingkungan sekitar.

2) Berbicara (Speaking)

  • Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana interpersonal dan transaksional sangat sederhana dalam bentuk intruksi dan informasi dalamkonteks kelas, sekolah, dan lingkungan sekitar.

3) Membaca (Reading)

  • Membaca nyaring dan memahami makna dalam instruksi, informasi,teks fungsional pendek, dan teks deskriptif bergambar sangat sederhana yang disampaiakan secara tertulis dalam konteks kelas, sekolah, dan lingkungan sekitar.

4) Menulis (Writing)

  • Menulis kata, ungkapan, dan teks fungsional pendek sangat seerhana dengan ejaan dan tanda baca yang tepat.
  1. 3. Teknologi Informasi dan Komunikasi (Komputer)

ü          Siswa terampil mengoperasikan computer dengan system operasi (OS Linus dan Windows) dan program aplikasinya dengan baik dan benar.

ü          Siswa dapat menambah kraifitas hasil karya dengan program aplikasi computer.

ü          Siswa dapat belajar bidang studi lain dengan mudah dan efektif lewat media computer.

ü          Siswa dapat menambah wawasan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi lewat computer.

BAB VI

KEGIATAN PENGEMBANGAN DIRI

  1. A. Layanan dan Pendukung Konseling

Kegitan Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk siswa, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mandidri dan berkembang secara optimal melalui bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendudkung.

  1. 1. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Tujuan umum Bimbingan Konseling adalah mendirikan siswa dan mengembangkan potensi mereka secara optimal.

  1. 2. Fungsi Bimbingan dan Konseling
  2. Fungsi kelemahan, dimaksudkan agar siswa memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya.
  3. Fungsi pencegahan, dimaksudkan agar siswa terhindar dari berbagai permasalahan yang akan menimpa dirinya.
  4. Fungsi pemeliharaan, dimaksudkan agar klien mampu menghadapai berbagai permasalahannya.
  5. Fungsi advokasi, dimaksudkan agar siswa mendapat perlindungan menghadapi berbagai masalah.
    1. 3. Arah Kegiatan Bimbingan dan Konseling

Kegiatan Bimbingan Konseling diarahkan pada hal-hal sebagai berikut :

1)      Terpenuhinya tugas-tugas perkembangan siswa dalam setiap tahap perkembangan mereka.

2)      Pengenalan diri dan lingkungan, pengembangan diri dan arahn karir, serta masa depan siswa

3)      Terlaksananya bidang tugas perkembangan yang mencakup bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir.

  1. 4. Kegiatan Pokok Bimbingan dan Konseling
    1. a. Kegiatan Layanan

Kegiatan bimbingan konseling di MI NU Nurul Huda diselenggarakan melalui bentuk layanan, antara lain sebagai berikut :

  1. Layanan Orientasi
  2. Layanan Informasi
  3. layanman Penempatan dan Penyaluran
  4. Layanan Pembelajaran
  5. Layanan Konseling Perorangan
  6. Layanan Konseling Kelompok
  7. Layanan Konsultasi
  8. Layanan Mediasi.
    1. b. Kegiatab pendukung

Sejumlah kegiatan pendukung kelancaran dan keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu :

1)              Aplikasi instrumentasi

2)              Himpunan data

3)              Konferensi kasus

4)              Kunjungan rumah

5)              Alih tangan kasus

  1. 5. Uraian Kompetensi

Kompetensi yang menjadi sasaran bimbingan ndan konseling pada tugas perkembangan yang meliputi :

  1. Menanam,kan dan mengembangkan kebiasaan serta sikap dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengambangkan ketrampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung
  3. Mengembangkan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari
  4. Belajar bergaul dan bekerja dengan kelompok sebaya.
  5. Belajar menjadi pribadi mandiri
  6. Mempelajari ketrampilan fisik sederhana yang diperlukan baik untuk permainan maupun yang mandiri.
  7. mempelajari ketrampilan fisik sederhana yang diperlukan baik untuk permainan maupun kehidupan.
  8. Mengembangkan kata hati, moral, dan nilai-nilai sebagai pedoman perilaku
  9. Membina hidup sehat, untuk diri sendiri dan lingkungan serta keidahan

10.  mengembangkan sikap sosial terhadap kelompok, lembaga sosial, serta masa depan.

  1. B. Pengembangan Minat dan Bakat
    1. 1. Macam-macam Kegiatan Pengembangan Minat dan Bakat

Pengembangan Minat dan Bakat di MI NU Nurul Huda Gulang meliputi :

  1. a. Mewarna
  2. b. Melukis
  3. c. Pembiasaan Ibadah Sholat
  4. d. Upacara
  5. e. Perpustakaan
  6. f. Menari
  7. g. Pembawa Acara (MC)
  8. h. Musik atau rebana

i.Drama

j.Qiro`ah

  1. k. Pramuka

l.Kom,puter

  1. m. Pusi
  2. 2. Tujuan Kegiatan Pengembangan Minat dan Bakat
    1. a. Mawarnai

1)          Melatih siswa dapat mewarnai obyek sesuai warna natural

2)          Melatih siswa untuk berkompetensi pada kejuaraan tingkat kota

3)          Menemukan bakat siswa dari jenis goresan untuk diarahkan pada seni lukis

  1. b. Melukis

1)          Dapat mengekspresikan imajinasinya pada goresan di kanvas, caping, dan tlenan

2)          Menyiapkan siswa untuk berkompetensi di tingkat kota

3)          Menyalurkan bakat siswa pada lukis

  1. c. Pembiasaan Ibadah Shalat Berjama`ah

1)          Melatih siswa untuk shalat khusyu`

2)          Menanamkan pada sisiwa bahwa shalat berjama`ah adalah perintah agama

3)          Melatih siswa untuk mandiri dan bertanggung jawab atas kewajiban terhadap Tuhannya.

  1. d. Upacara

1)          Melatih siswa untuk lebih disiplin dan khidmat dalam mengikuti kegiatan

2)          Melatih siswa untuk berani menjadi petugas upacara

3)          Menanamkan nilai-nilai kepahlawanan

  1. e. Menari

1)          Memberikan bekal pada siswa tentang aneka ragam budaya tari di Indonesia

2)          Menanamkan pada siswa untuk mencintai hasil budaya seni tari

3)          Menyiapkanm siswa untuk berkompetitif dalam lomba tingkat kabupaten.

4)          Menyalurkan bakat siswa pada seni tari

  1. f. Pembawa Acara (MC)

1)          Melatih keberanian siswa untuk tampil di muka umum

2)          Dapat membawakan acara baik formal maupun non formal

3)          Mampu membawakan acara baik tunggal maupun berpasangan

4)          Mampu membawakan acara dengan tiga bahasa

5)          Menyalurkan bakat siswa sebagai pembawa acara

  1. g. Musik atau Rebana

1)          Memberikan bekal kepada siswa untuk terampil dalam memainkan alat rebana

2)          Membudayakan alat musik trdisional yang Islami

3)          Menekankan agar siswa selalu bersholawat atas Nabi lewat seni rebana

4)          Menyiapkan group seni rebana tradional untuk bisa tampil di muka umum

  1. h. Drama

1)          Melatih siswa untuk berperan menjadi tokoh yang diperankan

2)          Sebgai wahana bagi siswa untuk belajar bersosialisasi dalam tim

3)          Melatih siswa untuk berani tampil di muka umum

  1. i. Qiro`ah

1)          Mengembangkan eni baca Al-Qur`an pada siswa

2)          Mampu berkompetisi dalam MTQ

3)          Menanamkan nilai pada siswa membaca A-Qur`an adalah termasuk ibadah

  1. j. Pramuka

1)          Sebagai wahana siswa untuk berlatih berorganisasi

2)          Melatih siswa untuk terampil dan mandiri

3)          Melatih siswa untuk mempertahankan diri

4)          Melatih siswa untuk memiliki jiwa sosial dan peduli kepada orang lain

5)          Memiliki sikap kerjasama kelompok

6)          Dapat menyelesaikan permasalahan dengan cepat

  1. k. Puisi

1)          Memberikan bekal kepada siswa untuk berapresiasi karya sastra yang berbentuk puisi

2)          Mempersiapkan siswa dalam kompetisi membaca atau mengarang puisi

  1. l. Pecak Silat

1)          Melatih keberanian siswa untuk mengambil inisiatif

2)          Memberikan wadah pada siswa yang mempunyai minat dan bakat pada pencak silat.

3)          Mempersiapkan siswa dalam kompetisi tingkat kabupaten

  1. 3. Syarat mengikuti kegiatan UPMB
  2. Siswa MI NU Nurul Huda Gulang mulai kelas 1 sampai kelas 6
  3. Mengisi formulir pendaftaran UPMB sesuai bakau dan minatnya
  4. Mendapat persetujuan dari orang tua
    1. Mengembalikan formulir yang telah diisi dan yang telah disetujui orang tua ke korbid UPMB
    2. Meniliki peralatan dan perlengkapan tambahan selain yang tersedia di sekolah
    3. Datang tepat waktu di lokasi yang telah di tentukan
  1. 4. Rencana Kegiatan dan Targer UPMB
  2. a. Rencana Kegiatan dan Target UPMB Mewarna

1)          Membuat goresan warna langit pagi hari

2)          Membuat goresan warna sore hari

3)          Membuat goresan warna Pelangi

4)          Mewarnai gambar dengan tema “Pelangi”

5)          Mewarnai gambar dengan tema “ Pelangi dan Langit “

6)          Membuat goresan warna tanah dan rumput

7)          Mewarnai gambar dengan tema “Pemandangan Alam” langit, pelangi, tanah dan rumput

8)          Membuat goresan warna air (laut, sungai dan kolam)

9)          Mewarnai pemandangan tema “Air”

10)      Mewarnai gambar pemandangan alam.

  1. b. Program dan Target UPMB Melukis

1)          Pengenalan bahan dan alat tulis melukis

2)          Membuat goresan warna menggunakan crayon

3)          Membuat lukisan benda dengan menggunakan crayon

4)          Mencampur warna dengan media air

5)          Membuat lukisan benda dengan mengunakan cat air

6)          Teknik membuat sketsa lukisan dengan pensil

7)          Teknik membuat lukisan kaligrafi dan hiasan tepi kertas

8)          Membuat lukisan kaligrafi dan pewarnaan dengan media cat air

9)          Pengenalan membuat lukisan di atas kanvas dengan media cat air

10)      Teknik mencampur warna dengan media cat minyak

11)      Membuat lukisan bebas

  1. c. Program Target UPMB Pembawa Acara (MC)

1)          Memahami pengertian MC

2)          Perkenalan

3)          Praktik pengenalan diri

4)          Tugas pembawa acara/ MC

F         Memandu

F         Menarik perhatian

F         Mengatasi hambatan

5)          Mental/ fisik MC

F         Latihan MC Upacara

F         Praktik MC Upacara

6)          Syarat Teknis MC

F         Menguasai acara

F         Kemampuan berbicara

F         Kemampuan vocal/ nafas

F         Kepribadian

7)          Menyusun MC acara ulang tahun

8)          Praktik MC acara ulang tahun

9)          Cara mengkomunikasikan pesan

10)      Menyusun naskah MC peringatan hari Pahlawan

11)      Praktik MC peringatan hai Ibu

12)      Kiat berbicara di depan umum

13)      Menyusun naskah MC kegaiatn Idul Qurban

14)      Praktik MC kegiatan Idul Qurban

  1. d. Program dan Target UPMB Musik atau Rebana

1)          Pengenalan sejarah alat musik islami “ Terbang Habsyi “

2)          Pengenalan sejarah pemakai alat musik islami “ Terbang Habsyi “ pertama kali di Indonesia

3)          Pengenalan alat musik Terbang Habsyi dan Ziffin

4)          Pengenalan rumus Terbang Habsyi ( Ngana`I dan Nikahi )

5)          Teknik memukul alat Terbang Habsyi yang baik dan benar

6)          Membaca lagu sholawat dengan diiringi alat Terbang Habsyi maupun Ziffin

7)          Penampilan di depan umum

  1. e. Program dan Target UPMB Qiro`ah

1)          Membaca surat Al-Lahab dengan lagu

F         Surat Al-Lahab ayat 1-2

F         Surat Al-Lahab ayat 3-4

F         Surat Al-Lahab ayat 5

F         Pemantapan membaca surat Al-Lahab

2)          Pengenalan lagu Bayyati

F         Lagu Bayyati 1,2, dan 3

F         Lagu Bayyati 4,5, dan 6

F         Lagu Bayyati 7,8, dan 9

3)          Pengenalan lagu Bayyati dalam Al-Qur`an surat Al-Mukmin

F         Surat Al-Mukmin ayat 1-3

F         Surat Al-Mukmin ayat 4-6

F         Surat Al-Mukmin ayat 7-9

F         Surat Al-Mukmin ayat 10-11

Penempatan membaca surat Al-Mukmin

  1. f. Program danTarget UPMB Pramuka

1) Tingkat Siaga

a) Materi Kemampuan Dasar

F         Hafal dan mengerti isi Dwi Darma dan Dwi Satya

F         Praktik pengamalan Dwi Darma dan Dwi Satya

F         Pembiasaan tertib sholat lima waktu

F         Dapat mengibarkan dan menyimpan bendera merah putih

F         Dapat menyanyikan lagu kebangsaan RI

F         Dapat melekukan baris-berbaris

F         Mengetahui nama Negara dan ibu kota Republik Indonesia

F         Dapat melaksanakan tata upacara pembukaan dan penutupan latihan

b) Materi Permainan

F         Melakukan permainan ketangkasan

F         Melakuikan permaianan penyegaran

F         Melakukan aneka tepuk

F         Merangkai gambar/ peta

F         Menyanyikan aneka lagu kepramukaan

c) Materi Ketrampilan

F         Memelihara kebersihan rumah, sekolah dan tempat ibadah

F         Dapat menyampaiakan berita secara lisan

F         Membuat hasta karya

F         Tali temali besar

F         Teknik pertolongan pertama pada kecelakaan

F         Dapat memberi salam Pramuka

F         Membiasakan berpakaian rapi lengkap dengan atributnya

F         Membiasakan hidup hemat dengan menabung

2) Tingkat Penggalang

a) Materi Kemampuan Dasar

F         Hafal dan mengerti isi Dasa Darma dan Darma Satya

F         Praktik pengamalan Dasa Darma dan Darma Satya

F         Membiasakan diri tertib sholat lima waktu

F         Mengetahui arti kiasan lambing Gerakan Pramuka

F         Pengetahuan Dasar P3K dan aplikasinya

F         Dapat menggunakan dan mengibarkan bendera kebangsaan Indonesia

F        Dapat melaksanakan tata upacara pembukaan dan penutupan upacara latihan

F         Dapat mempraktikkan Peraturan Baris Berbaris dengan formasinya

b) Materi Permainan Pramuka

F         Melakukan permainan ketangkasan

F         Melakukan permainan penyegaran

F         Melakukan permainan kekompakan

F         Menyanyikan aneka lagu pramuka

c) Materi ketrampilan

F         Memberi dan mengirim berita Morse

F         Memberi dan mengirim berita Smaphore

F         Melaksanakan PBB Isyarat

F         Membuat hasta karya

F         Masak memasak

d) Materi Pengembangan

F         Membuat denah dan peta

F         Membuat tanda jelek

F         Teknik penggunaan kompas

F         Pelestarian lingkungan

  1. C. Pendidikan Kecakapn Hidup

Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya dan hasilnya bermaikna bagi hidup dan kehidupannya

Pendidikan kecakapan hidup di MI NU Nurul Huda Desa Gulang diarahkan untuk mengaktualisasikan potensi siswa sehingga dapat menggunakanya untuk memecahkan problema yang mereka hadapi. Pelaksanaan Pendidikan Hidup (PKH) disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisologis dan psikologis siswa. PKH dilingkup madrasah difokuskan pada kecakapan generic atau general life  skill (GLS) yang mencakup kesadaran diri atau kecakapan personal (personal life skill) dan kecakapan sosial (social life skill). Hal tersebut disandarkan atas prinsip bahwa general life skill (GLS) merupakan fondasi kecakapan hidup yang akan diperlukan untuk mempelajari kecakapan hidup berikutnya dan bahkan untuk terjun dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Kecakapan Hidup bukanlah suatu mata pelajaran yang berdiri sendiri, namun pendidikan kecakapan hidup dalam pelaksanaannya diintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran yang ada dan melalui penciptaan budaya sekolah. Budaya sekolah yang disumbangkan di MI NU Nurul Huda Gulang meliputi : (1) Budaya peningkatan mutu, (2) budaya hidup sehat, (3) budaya tertib, (4) budaya membaca, (5) budaya spiritual.

BAB VII

KETUNTASAN BELAJAR, SISTEM PENILAIAN,

PINDAH SEKIOLAH DAN KELULUSAN

  1. A. Kriteria Ketuntasan Minimal

Kritearia Ketuntasan Minimal (KKM) addalah batas minimal nilai yang seharusnya dicapai oleh siswa sebagai indicator bahwa siswa yang bersangkutan telah mencapai kompetensi dasar tertentu. Skor Kriteria Ketuntasan Minimal maksimum adalah 100. Namun MI NU Nurul Huda Gulang menetapkan bahwa skor maksimun tersebut akan dicapai setelah kurun waktu tertentu tidak pada awal pemberlakuan kurikulum. Skor KKM dinyatakan dengan skor 0-100. penetapan KKM setiap mata pelajaran didasarkan pada hasil analisis KKM setiap KD pada mata pelajaran tersebut. Peetapan KKM setiap KD didasarkan pada hasil analisis Indikator Pencapaian (IP) pada setiap KD yang bersangkutan karena IP menjadi acuan dalam pembuatan soal ujian. Soal ujian harus mencerminkan pencapaian IP dan tidak perlu ada pembobot hasil ujian harian, mingguan, bulanan dan semesteran. KKM setiap KD merupakan rata-rata dari KKM setiap KD merupakan rata-rata dari KKM setiap indikator dan rata-rata KKM KD pada setiap mata pelajaran di setiap jenjang kelas merupakan KKM mtara pelajaran yang bersangkutan.

Penentuan criteria ketentuan minimal setiap kompetensi dasar didasarkan pada tiga unsur, yaitu (1) intake siswa, (2) sarana prasarana, dan (3) kompleksitas materi.

Intake siswa ditentukan dari nilai rata-rata mata pelajaran yang dicapai oleh siswa yang bersangkutan dari semester sebelumnya. Skor untuk sarana prasarana ditetapkan dengan berpedoman pada :

(1)       ketersediaan media belejar berupa buku pegangan siswa.

(2)       Ketersediaan buku penunjang di perpustakaan

(3)       Ketersediaan media audio-visual

(4)       Ketersediaan alat peraga

(5)       Ketersediaan ruang khusus untuk praktik

Penetapan criteria skor sarana prasarana ditentukan sebagi berikut :

Skor 50 – 60 bila salah satu unsure di atas terpenuhi

Skor 60 – 70 bila ada dua unsur di atas terpenuhi

Skor 70 – 80 bila ada tiga unsur di atas terpenuhi

Skor 80 – 90 bila ada empat unsure di atas terpenuhi

Skor 90 – 100 bila kelima unsure di atas terpenuhi

Kompleksitas materi ditentukan dengan mendasarkan pada hal-hal berikut :

(1)       tingkat kelulusan (scoupe) materi tinggi,

(2)       tingkat kedalaman (sequence) materi tinggi

(3)       menurut penguasaan materi prasyarat

(4)       menuntut berpikir tingkat tinggi (bukan hafalan)

(5)       menuntut kecermatan tinggi

Penetapan criteria skor kompleksitas ditentukan sebagai berikut :

Skor 50 – 60 bila Kelima unsur di atas terpenuhi

Skor 60 – 70 bila ada empat unsur di atas terpenuhi

Skor 70 – 80 bila ada tiga unsur di atas terpenuhi

Skor 80 – 90 bila ada dua unsur di atas terpenuhi

Skor 90 – 100 bila satu unsur di atas terpenuhi

Criteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar ditentukan dengan cara menjumlahkan skor intake siswa, sarana prasarana dan kompleksitas materi kemudian menentukan nilai rata-ratanya.

Kriteria ketuntasan minimal masing-masinmg mata pelajaran pada tahun pelajaran 2008-2009 dapat dirangkum sebagai berikut :

No

Komponen

KKM Tiap Kelas

Kls I

Kls II

Kls III

Kls IV

Kls V

Kls VI

A.

Mata Pelajaran

1.

Al-Qur`an Hdits

77

77

76

76

76

76

2.

Aqidah Akhlak

80

80

80

78

78

78

3.

Fiqih

78

78

76

76

76

76

4.

Sejarah Kebudayaan Islam

-

-

76

76

76

76

5.

Bahasa Arab

-

-

-

72

72

73

6.

Bahasa Indonesia

80

80

78

78

78

78

7.

Matematika

80

80

78

76

76

76

8.

Ilmu PengetahuanAlam

80

78

78

76

76

76

9.

Ilmu Pengetahuan Sosial

80

78

78

76

76

78

10.

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

80

80

80

78

78

78

11.

Seni Budaya dan Ketrampilan

76

76

76

75

75

75

12.

Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan

78

78

78

78

78

78

B.

Muatan Lokal

1.

Bahasa Jawa

72

72

72

72

72

72

2.

Bahasa Inggris

-

-

-

75

75

76

3.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (Komputer)

-

-

-

76

77

77

Rata-rata KKM Tiap Kelas

78

78

77

76

76

76

  1. B. Sistem Penilaian

Salah satu bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadp masyarkat adalah laporan tentng kemampuan yang telah dimiliki siswa. Untuk mengetahui kemampuan yang dicapai siswa perlu dilakukan penilaian. Kegiatan penilaian dilakukan melalui pengukuran atau pengujian terhadap siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dalam suatu kompetensi tertentu. Untuk memperoleh informasi yang akurat, penilaian dilakukan secara sistematik dengan menggunakan prinsip penilaian.

Penilaian yang dierapkan dlam kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang adalah penialaian berbasis kelas. Penialaian berbasis kelas dlah proses pengumpulan dan penggunaan informsi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa berdasarkan terhadap kemajuan belajarnya sehingga didapatkan potret/ profil kemampuan siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Penilaian berbasis kelas dialauakn baik dalam suasana formal maupun informal, did lam kelas, di luar kelas, terintegrsi dalam kegiatan belajare-mengajar atau dilakukan pada waktu yang khusus.

  1. 1. Prinsip Penialaian Berbasis Kelas

Prinsip penilaian yang penting adalah skurat, ekonomis, dan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Akurat berarti hasil penialaian mengandung kesalahan sekecil mungkin, dan ekonomis berarti system, penialain mudah dilakuakn dan murah. Tiga hal ini yang menjadi pertimbangan dalam mengembangkan system penilaian di MI NU Nurul Huda Gulang.

Sistem penil;aian yang digunakan akan mendorong kualitas pendidikan. Unmtuk itu sistem penilaian yang digunakan di MI NU Nurul Huda Desa Gulang diupayakan akan dapat : (1) memberi informasi yang akurat, (2) mendorong siswa belajar, (3) memotivasi guru mengajar, (4) meningkatkan kinerja lembaga, dan (5) meningkatkan kualitas pendidikan.

Informasi yang akurat meliputi kompetensi dasar yang telah dicapai dan yang belum dicapai siswa. Apabila siswa mengetahui akan kompetensi dasar yang telah dan belum dicapai, dijarapkan siswa dapat menentukan strategi belajar yang lebih tepat. Guru yang mengetahui hasil penilaian dihareapkan akan membangkitkan semangat untuk memilih strategi pembelajaran yang lebih tepat. Apabila motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru meningkat, maka dapat diharapkan kinerja lembaga meningkat, sehingga kualitas pendidikan meningkat. Jadi system penilaian yang diterapkan di MI NU Nurul Huda Gulantg harus mampu mendorong peningkatan kualitas pendidikan.

Sesuai dengan prinsip kurikulum tinngkat satuan pendidiakn yang berbasis kompetensi bahwa acuan yang digunakan dalam menafdsirkan hasil ujian adalah acuan criteria. Acuan criteria ini menafsirkan hasil penilaian dengan standar atu criteria ketentuan minimal yang lebih ditetapkan. System penialaian yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di MI NU Nurul Huda Gulang adalah system penialaian yang berkelanjutan. Prinsip system penilaian berkelanjutan adalah menilai semua kompetensi dasar, menganalisis hasil penilaian dan melakukan tindak lanjut yang berupa program perbaiakan atau program pengayaan. Penilaian berkelanjutan ini penting agar siswa dapat mencapai kompetensi dasar secara bertahap. Kompetensi dasar setiap mata pelajaran merupakan bagian dari standar kompetensi mata pelajaran.

  1. 2. Pendekatan dalam Penilaian

Dalam pelaksanaan kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang, pendekatan penialaian yang digunakan adalah penilaian yang mengacu pada penialaian acuan kriteria atau patokan. Dalam hal ini prestasi belajar siswa ditentuklan oleh criteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan sustu kompetensi. Dengan kata lain, penilaian mengacu kepada kurikulum. Meskipun demikian, kadang-kadang dapat digunakan penialaian acuan norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih siswa yang masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan siswa dalam kegaiatan belajar, dan untuk menyeleksi siswa yang mewakili sekolah dalam lomba antar sekolah dalam lomba antar sekolah, ataupun  lomba bidang studi.

  1. 3. Ruang Lingkup Penilaian Hasi Belajar

Hasil belajar siswa dapat diklasifikasikan ke dalam tiga ranah (domain), yaitu (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai yang mencakup kecerdasan antar pribadi dan kecerdasan intra pribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3) domain psikomotor (ketrampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestik, kecerdesan visual-spasial, dan keceerdasan musikal). Penilaian yang dilakukan guru mencakup semua hasi; belajar siswa, yaitu kemampuan kognitif atau berpikir,kemampuan psikomotor atau kemampuan praktik, dan kemampuan efektif. Penialaian pada ketiga aspek ini tidak sama, masing-masing memiliki karakteristik yang khusus.

Pada aspek psikomotor, penialaian yang dilakukan guru terletak pada ketepatan gerakan yang dilakukan sisw dan hasil gerakan siswa. Kemampuan psikomotor siswa dilihat dari penampilan siswa dalam melakukan praktik. Fokus penilaian terletak pada kebenaran gerakan, waktu yang diperlukan, dan hasil gerakan. Komponen lain yang penting adalah keselamatan kerja, baik untuk manusia maupun untuk alat.

Penilaian pada aspek afektif kategori pertama, yaitu yang berkaitan langsung dengan pencapaian kemampuan kognitif, dilakukan melalui observasi dan kuesioner. Untuk aspek afektif kategori yang kedua, seperti akhlaqul karimah, kebersihan, kerajinan, penilaian dilakukan dengan pengamatan secara langsung keseharian siswa dengan menggunakan lembar format pengamatan pengamatan yang dikembangkan oleh guru.

Secara sederhana ruang lingkup penilaian hasil belajar siswa di MI NU Nurul Huda Gulang dapat ditabelkan sebagai berikut :

Domain

Tingkat

Deskripsi

Kognitif Pengetahuan Pengetahuan terhadap fakta, konsep, defenisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, dan kesimpulan.

Contoh :

  • Mengemukakan arti
  • Menamakan
  • Membuat daftar
  • Menentukan lokasi
  • Mendeskripsikan sesuatu
  • Menceritakan apa yang terjadi
  • Menguraikan apa yang terjadi
Pemahaman Pengertian Terhadap Hubungan Antar Faktor-Faktor Antar Konsep Dan Antar Data, Hubungan Sebab-Akibat, Dan Penarikan Kesimpulan.

Contoh :

  • Mengungkapkan Gagasan/ Pendapat Dengan Kata-Kata Sendiri
    • Membedakan, Membandingkan
    • Menginterprestasikan Data
    • Menjelaskan Gagasan Pokok
    • Menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri
Aplikasi Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah, menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh :

  • Menghitungkan kebutuhan
  • Melakukan percobaan
  • Membuat peta
  • Membuat model
  • Merancang strategi
Analisis Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah, menyelesaikan, atau gagasan dan menunujukkan hubungan antar bagian tersebut.

Contoh :

  • Mengidentifikasi faktor penyebab
  • Merumuskan masalah
  • Mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi
  • Membuat grafik
  • Mengkaji ulang
Sintesis Menggabungkan sebagai informasi menjadi satu kesimpulan atau konsep, meramu/ merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru.

Contoh :

  • Membuat desain
  • Mengarang komposisi lagu
  • Menemukan soslusi masalah
  • Memprediksi
  • Merancang model mobil-mobilan, pesawat sederhana
Evaluasi Mempertimbangkan dan menilai benar-salah, baik-buruk, bermanfaat-tak bermanfaat.

Contoh :

  • Mempertahankan pendapat
  • Berdu argumentasi
  • Memilih solusi yang lebih baik
  • Menyusun criteria penilaian
  • Menyarankan perubahan
  • Menulis laporan
  • Membahas suatu kasus
  • Menyarankan suatu strategi baru
Afektif Penerimaan (Receiving) Kepekaan (keinginan menerima/ memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli

Menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi.

Contoh :

  • Sering mendengarkan musik
  • Senang membaca puisi
  • Senang mengerjakan soal matematika
  • Senang membaca cerita
  • Senang menyanyikan lagu
  • Senang mengaji
Responsi (Responding) Menunjukkan perhatian aktif.

Melakukan sesuatu dsengan/ tentang fenomena.

Contoh :

  • Mentaati peraturan
  • Mengerjakan tugas
  • Mengungkapkan perasaan
  • Menanggapi pendapat
  • Meminta maaf atas kesalahan
  • Mendamaikan teman yang bertengkar
  • Menunjukkan empati
  • Menulis puisi
  • Melakukan renungan
  • Melakukan introspeksi
  • Ikut terharu/ sedih bila ada teman terkena musibah.
Acuan (valuing) Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai.

Termotivasi berperilaku dengan nilai-nilai yang pasti.

Tingkatan : menerima, lebih menyukai, danmenunjukkan komitmen terhadapsuatu nilai.

Contoh :

  • Mengapresiasi seni
  • Menghargai peran
  • Menunjukkan keprihatinan
  • Menunjukkan alasan perasaan jengkel
  • Mengoleksi kaset lagu, novel, atau barang antik
  • Melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup
  • Menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran HAM
  • Menjelaskan alasan senang membaca novel
Organisasi Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam system.

Menentukan saling hubuingan antar nilai

Memantapkan suatu nilai yang dominant dan diterima di mana-man

Tingkatan :  -  Konseptualisasi sustu nilai

-     Organisasi sustu system nilai.

Contoh :

  • Bertanggung jawab terhadap perilaku
  • Menerima kelebihan dan kekurangan pribadi
  • Membuat rancangan hidup masa depan
  • Merefleksi pengalaman dalam haltertentu
  • Membahas cara melestarikan lingkungan hidup
  • Merenungkan makna ayat kitab suci Al-Qur`an bagi kehidupan
  • Menyadari pentingnya beragama dalam kehidupan
Karakterisasi Suatu nilai/ system nilai telah menjadi karakter.

Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu, diorganisasikan secara konsisten, dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu.

Contoh :

  • Rajin, tepat waktu, berdisiplin.
  • Mandiri dalam bekerja secara independent
  • Objektif dalam memecahkan masalah
  • Mempertahankan pola hidup sehat
  • Menilai pada fasiliytas umum dan mengajukan saran perbaikan
  • Menilai kebiasaan konsumtif
  • Mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar teman.
  • Merasa berdosa bila meninggalkan sholat dengan sengaja.
Psikomotor Gerakan reflek Gerakn reflek adalah basis semua perilaku bergerak.

Response terhadap stimulus tanpa sadar, misalnya melompat, menunduk,berjalan, menggerakkan leher dan kepala, menggenggam, memegang.

Contoh :

  • Mengupas mangga dengan pisau
  • Memotong dahan bunga
  • Menmpilkan ekspresi yang berbeda
  • Meniru gerakan polisis lalu lintas, pengemudi
  • Meniru daun berbagai tumpuan yang diterpa angin
Gerakan Dasar (Basic fundamental movements) Gegerkan ini muncul tanpa latihan tetapi dapat diperhalus melalui praktik.

Gerakan ini terpola dan dapat ditebak

Contoh :

  • Contoh gerakan tak berpindah :

bergoyang, membungkuk, merentang, mendorong, menarik, memeluk, berputar.

  • Contoh gerakan berpindah :

merangkak, maju perlahan-lahan, meluncur, berjalan, berlari, meloncat-loncat, berputar mengitari, memanjat.

  • Contoh gerakan manipulasi :

Menyusun balok/ bl;ok, menggunting, menggambar dengan crayon, memegang dan melepas objek, blok, atau mainan.

  • Ketrampilan gerak tangan dan jari-jari :

Memainkan bola, menggambar

Gerakan persepsi (perceptual abilities) Gerakan sudah lebih mengikat karena dibantu kemampuan perseptual.

Contoh :

  • Menangkap bola, mendibrel bola
  • Melompat dari satu petak ke petak lain dengan satu kali sambil menjaga keseimbangan.
  • Memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang ukurannya bervariasi
  • Melihat terbangnya bola pingpong
  • Melihat gerakan pendulum
  • Menggambar symbol giometri
  • Menulis alphabet
  • Mengulangi pola gerak
  • Memukul bola tennis, pingpong
  • Membedakan bunyi beragam alat musik
  • Membedakan suara berbagai binatang
  • Mengulangi ritme lagu yang pernah di dengar
  • Membedakan berbagai tekstur dengan meraba.
Gerakan Kemampuan Fisi (physical ability) Gerak lebih efisien

Berkembang melalui kematangan dan belajar.

Contoh :

  • Menggerakkan otot/ sekelompok otot selama waktu tertentu
    • Berlari jauh
    • Mengangkat beban, menarik, mrndorong, melakukan push-up, kegiatan memperkuat tangan, kaki, dan perut.
      • Menari
      • Melakukanm senam
      • Melakukan gerak pesenam, pemain biola, pemain, bola
Gerakan terampil (skilled movements) Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak.

Terampil, tangkas, cekatan melakukan gerakan yang sulit dan ru,it (kompleks)

Contoh :

  • Melakukan gerakan terampil berbagai cabang olah raga
    • Menari, senam
    • Membuat kerajinan tangan
    • Menggergaji
    • Mengetik 10 jari
    • Memanah
    • Memainkan gamelan
    • Bermain sepatu roda
    • Melakukan gerak akrobatik
    • Melakukan koprol yang sulit
Gerakan indah dan kreatif (non discursive communication) Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan.

Gerak estetik gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah

Gerak kreatif :  Gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran.

Contoh :

  • Kerja seni yang bermutu (membuat patung, melukis, menari, melakukan senam tingkat tinggi, bermain drama.
    • Ketrampilan olah raga tingkat tinggi
  1. 4. Pelaksanaan Penilaian

Tujuan penialaian pada umumnya selain sebagai usaha untuk memberikan gembaran tentang perkembangan hasil belajar siswa dan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang harus dilakukan, juga digunakan untuk pengakuan terhadap kualitas pendidikan yang telah dicapai di MI NU Nurul Huda Gulang, yang ditunjukkan melalui sertifikasi (akreditasi). Penilaian terhadap kompetensi siswa dapat dilakukan oleh pihak luar ( penilaian eksternal), baik yang bersifat internasional, nasioanl, maupun local dan pihak sekolah sendiri . sehubungan dengan hal itu, penilaian yang bertujuan untuk memberiakan gambaran tentang perkembangan hasil belajar siswa dan perbaikan proses belajar mengajar dilakukan oleh sekolah sendiri.

  1. Penilaian Eksternal

Penilaian eksternal dapat diterapkan madrasah untuk memperoleh pengakun tentang kualitas madrasah yang disertakan denmagn tingkatan penilaian yang ditentukan lembaga pendidikan eksternal

(1)       Penialaian Internasional

Penilaian tingkat internasioanal diterapkan madrasah untuk memperoleh pengakuan dari pihak tertentu yang memiliki akses internasional agar lulusan MI NU Nurul Huda Gulang berhak memasuki suatu jenjang sekolah mancanegara

(2)       Penilaian Nasional

Penilaian tingkat nasional diterapkan untuk memperoleh pengakuan dan sertifikasi di tingkat nasional. Pengakuan ini menjadikan semua siswa telah memperoleh sertifikasi pada jenjang pendidikan dasar secara nsional dan berhak melanjutkan pendidikannya dan mengiukuti seleksi masuk di sekolah manapun di Indonesia.

(3)       Penilaian Lokal

Penilaian tingkat local adalah penilaian yang diterapkan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama dan atau Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah atau Kota Kudus

  1. Penilaian Internal

Penilaian Internal adalah penilaian terhadap hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru atas nama sekolah untuk menilai kompetensi siswa pada tingkat tertentu. Secara umum pelaksanaan penilaian internal dikategorikan menjadi dua, yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif dlaksanakan untuk setiap kompetensi dasar merupakan bagian integral dari proses pembelajaan siswa. Penilaian ini digunakan untuk memperoleh umpan balikk dari siswa untuk memperkuat proses pembelajaran untuk membantu guru menentukan setrategi pembelajaran yang tepat. Pnilaian formatif dilakukan melalui tugas-tugas, ulangan singkat (kuis), ulangan harian, dan atau tugas-tugas kegiatan praktij. Penilaian ini pada dasarnya bertujuan untuk memperbaiki strategi pembelajaran. Siswa yang belom tuntas untuk setiap KD-nya akan diberikan remedial teaching dan diberi kesempatan mengulang paling banyak tiga kali.

Penilaian sumatif dilakukan pada akhir blok pelajaran untuk memberikan indikasitingkat pencapaian belajar siswa atau kompetensi dasar yang dicapai siswa. Tingkat pencapaian kompetensi dasar siswa dikategorikan tuntas dan belum tuntas untuk tiap mata pelajaran. Bagi yang tuntas diberi program pengayaan, sedangkan yant belum tuntas mengikuti program remedial, yaitu belajar lagi atau berlatih lagi dengan bimbingan guru.

  1. 5. Jenis Penilaian

Penilaian kelas dapat diklasifikasikan berdasarkan cakupan kompetensi yang diukur dan sasaran pelaksanaannya.

  1. Jenis Penilaian Berdasarkan Cakupan Kompetensi yang Diukur

1)          Ulangan Harian

Ulanagan Harian adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai pencapaian satu atau lebih kompetensi dasar. Jumlah ulangan harian setiap semester tergantung dari jumlah kompetensi dasar pada semester tersebut.

2)          Ulangan Akhir Semester

Ulangan Akhir Semester adlah penilaian yang dialakukan untuk menilai pencapaian kompetensi dalam setiap semester. Pelaksanaan ulangan akhir semester dilaksanakan setiap akhir semester 1 maupun 2.

  1. Jenis Penilaian Berdasarkan Sasaran

1)          Penilaian Individu

Penilaian Individu adalah penilaian yang dialakukan untuk menilai pencapaian kompetensi secara perorangan.

2)          Penilaian Kelompok

Penilaian Kelompok adalajh pennilaian yang dilakuikan untuk menilai pencapaian kompetensi secara kelompok.

  1. 6. Teknik Penilaian

Teknik Penilaian dapat meliputi teknik Tes dan Non Tes. Teknik Tes dilakukan dengan penyusun sebuah instrument tes yang dikerjakan oleh siswa, baik secara tertulis, lisan maupuin perbuatan. Tekik Non Tes dapat meliputi skala sikap, catatan anekdot, penilaian diri, sosiogram, kuesioner, buku harin (diary), unhkapan perasaan, dan pengamatan perilaku. Teknik penilaian mana yang digunakan oleh guru sangat berkaiatan dengan karakteristik kompetensi yang akan diukur.

  1. 7. Bentuk-bentuk Penilaian

Ada beragam cara mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Cara-cara pengfumpulan informasi tentang kemajuan belajar siswa tersebut dikenal sebagai bentuk-bentuk penilaian. Bentuk-bentuk penilaian dapat berupa tes tertulis (paper and pencil test), tes lisan, tes perbuatan (kinerja), pengamatan (observasi), skala sikap, angket, portofoliao, tugas (produk), dan proyek.

Berikut ini dikemukakan contoh-contoh penerapan bentuk-bentuk penilaian yang digunakan di MI NU Nurul Huda Gulang.

  1. a. Penilaian

1)      Tertulis Objektif

a)          Jawaban benar-salah

b)          Isian singkat

c)          Pilihan ganda

d)          Memjodohkan

2)      Tertulis Subjektif

a)          Pengerjaan soal

b)          Latihan (exercise)

c)          Reading comprehension

d)          Data-pertanyaan

e)          Esei berstruktur

f)            Esei bebas

  1. b. Lisan

1)      Tanya-Jawab singkat

2)      Pelafalan

3)      Membaca nyaring

4)      Mendengarkan (listening)

5)      Intrusksi lisan

6)      Kuis

7)      Percakapan (speaking)

  1. c. Unujk Kerja

1)          Permaianan (game)

2)          Bermaian Peran

3)          Darma

4)          Demontrasii

5)          Olah Raga

6)          Senam

7)          Memainkan alat musik

8)          Menari

9)          Membaca puisi

10)      Dinamika kelompok

11)      Berdoa

12)      Praktik berwudlu

13)      Praktik sholat

14)      Memelihara ternak

15)      Menjaga kebersihan

16)      Diskusi

17)      Wawancara

18)      Debat

19)      Bercerita Islami

20)      Praktik menjadi Imam sholat

21)      Memberikan ceramah (Kultum)

  1. d. Produk

1)          Membuat patung

2)          Membuat kerajinan tangan

3)          Membuat model

4)          Membuat pesawat sederhana

5)          Membuat alat

6)          Berternak

7)          Berkebun

8)          M,embuat simoul tali-temali

9)          Membuat hiasan janur

10)      Membuat hiasan buah-buahan

  1. e. Portofolio

1)          membuat puisi

2)          membuat karangan

3)          menggambar/ lukisan

4)          membuat peta/ denah

5)          membuat desain

6)          membuat laporan (paper)

7)          laporan observasi

8)          laporan hasil penyelidikan

9)          laporan hasil penelitian

10)      Membuat synopsis

11)      Membuat naskah pidato/ khutbah/ kultum

12)      Membuat naskah drama

13)      Berdoa

14)      Membuat kartu ucapan

15)      Menulis surat

16)      Membuat komposisi musik

17)      Membuat teks lagu

18)      Membuat resep makanan

  1. f. Proyek

1)          Melakukan penghematan penggunaan listrik rumah

2)          Melakukan observasi terhadap kebiasaan buruk yang ada di masyarakat terhadap aturan

3)          Melakukan penyelidikan sederhana tentang kebiasaan masyarakat yang dapat merusak lingkungan.

4)          Mengidentifikasi jenis-jenis makhluk hidup yang telah punah di lingkunagn sekitar siswa.

5)          Mendata jenis-jenis bantuan di sekitar siswa

6)          Mementaskan kaarya drama

  1. 8. Kriteria Kenaikan Kelas
    1. Kenaikan kelas dilaksanakan pada setia akhir tahun pelajaran dengan criteria :

Kelas V :

  1. Tuntas semua mata pelajaran, atau
    1. Tidak ada nilai kurang dari 70 sebanyak lima mata pelajaran selaian muatan lokal

Kelas I – IV

  1. Tuntas semua mata pelajaran, atau
  2. Tidak ada nilai kurang dari 65 sebanyak lima mata pelajaran selaian muatan local
  3. Mekanisme Kenaikan Kelas :

1)          Penentuan siswa yang naik dan tidak naik ditetapkan pada rapat antara kepala madrasah dan dewan guru

2)          Pertimbangan kenaikan kelas bagi siswa didasarkan pada kriteria kenaikan kelas, presensi siswa, kelakuan atau sikap siswa yang bersangkutan

3)          Siswa yang dinyatakan naik kelas, rapornya dituliskan naik ke kelas berikutnya.

4)          Siswa yang dinyatakan tidak naik kelas harus mengulang di kelas yang sama

5)          Rapor kenaikan kelas dinyatakan sah apabila telah ditandatangani oleh wali kelas dan kepala sekolah.

6)          Bagi siswa yang naik kelas tetapi belum tuntas pada mata pelajaran tertentu, diberi kesempatan remidi di kelas berikutnya maksimal dua kali.

  1. 9. Kriteria Kelulusan
    1. a. Kriteria Kelulusan

Sesuai denganm PP 19/2005 pasal 72 ayat 1, Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan dasar dan menengah setelah :

  1. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran
  2. lulus ujian madrasah untuk leompok mata pelajaran agama dan akhlaq mulia, kelompok mata pelajarn estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan dengan nilai minimal 6,00 untuk masing-masing mata pelajaran.
  3. berperilaku minimal baik
  4. lulus ujian daerah dan atau nasional untuk kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
  1. b. Penentuan Kelulusan
    1. Penentuan kelulusan siswa dilakukan oleh suatu rapat dewan guru bersama kepala sekolah dengan mempertimbangkan nilai rapor, nilai ujian sekolah, dan ujian daerah dan atau nasional serta perilaku siswa yang bersangkutan
    2. siswa yang dinyatakan lulus akan diberi ijasah dan rapor semester dua kelas enam.

Siswa yang dinyatakan tidak lulus harus mengulang di kelas terakhir atau mengikuti Kejar Paket A seabagaimana perundang-undangan yanmg berlaku.

  1. C. Pindah Madrasah

Siswa MI NU Nurul Huda Gulang diperkenankan untuk mengajukan pindah sekolah dalam satu kota atau satu propinsi atas persetujuan atau permintaan orang tua. Persyaratan untuk mengajukan pindah sekolah tersebut adalah sebagai berikut :

(a)            Orang tua mengajukan surat pindah sekolah secara tertulis kepada kepala MI NU Nurul Huda Gulang yang ditanda tangani oleh slah satu orang tua wali.

(b)           Orang tua mengisi blanko kepindahan sekolah yang disiapkan oelh sekolah dan ditandatangani oleh kedua orang tua siswa, diserahkan kepada bagian tata usaha dengan melampiri surat keterangan tidak mempunyai tanggungan dari komite Madrasah dan perpustakaan.

(c)            Sekolah akan membuatkan surat pindah ke sekolah yang dituju dan disertakan buku rapor siswa.

BAB VIII

REVISI DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

Kurikulum yang diterapkan di MI NU Nurul Huda Gulang bersifat dinamis terhadap perubahan keamjuan, tuntutan berkembang di lingkungan masyarakat dan arah kebijakan pemerintah dibidang pendidikan. Oleh karena itu, secara berkala kurikulum ini akan dikaji ulang agar sesuai dan selaras dengan perubahan kemajuan, tuntutan masyarakat dan arah kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tersebut. Hasil kajian tersebut akan dituangkan dalam bentuk revisi dan pengembangn kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang.

  1. A. Revisi Kurikulum

Evaluasi terhadap kurikulum akan dilakukan setelah diimplementasikannya kurikulum ini untuk mengetahui kekurangan dan kelebihannya oleh Tim Kendali Mutu. Bila terdapat kekurangn-kekurangan di dalam penyusunan kurikulum ini, maka akan dilakukan revisi setelah memperoleh masukan-masukn dari Tim Kendali Mutu. Kurikulum ini akan dikaji ulang sekurang-kuranmgnya setiap 5 tahun sekali dengan melibatkan pemangku kepentingan (stake holder) yang meliputi guru, kepala madrasah, komite madrasah, Kantor Departemen Agama Kota Kudus dan Dinas Pendidikan Kota Kudus.

Dalam konteks revisi kurikulum di MI NU Nurul Huda Gulang, ada tiga maksud revisi kurikulum, yaitu :

(1)       Penyesuaian aksiologi isi kurikulum (tujuan institusional dan nkurikulum, dan materi kurikulum) dengan kebijakan pemerintah (Departemen Agama) yang mendorong terjadinya perubahan kurikulum.

(2)       Penyesuaian isi kurikulum sehingga secara asumtif relevan dengan kebutuhan suprasistem dan tujuan pendidikan nasional serta fungsi sekolah dasar/ madrasah ibtidaiyah sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar bagi setiap warga Negara.

(3)       Penyesuaian secara teknis susunan kurikulum, cara belajar-mengajar, cara evaluasipendidikan, dan cara pengelolaan pembelajaran dengan prinsip dan teknis yang dianggap lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan pendidikan di MI NU Nurul Huda Gulang.

  1. B. Pengembangan Kurikulum MI NU Nurul Huda Gul;ang

Kurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu satuan pendidikan. Kurikulum dapat dipandng sebagai suatu rancangn pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Pendidikan pada dasarnya bertujuan mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan untuk pendidikan, tetapi memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan kebudayaan. Oleh karena itu, tujuan isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekayaan, dan perkembangan masyarakat tersebut.

Begitu pula kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang akan mengembangkan dan diselaraskan dengan kondisi masyarakat di kota Kudus. Perkembangan dan dinamika yang mewarnai pengembangan kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang meliputi : (1) perkembanagan masyarakat, (2) perkembangan ilmu pengetahuan, (3) perkembangan teknologi, (4) pengaruh perkembangan teori-teori pembelajaran dan (5) pengaruh perkembangan bidang teknologi pembelajaran.

Pengembangan kurikulum akan dilakukan secara bertahap dan terprogram, terutama yang menyangkut aspek-aspek : (12) perngkat pembelajaran, (2) model pembelajaran, (3) teknik-teknik evaluasi hasil belajar dan bentuk pelaporannya, dan (4) model-model pengembangan diri menyesuaikan dengan perkembangan teori-teori pembelajaran baru yang berkembang di dunia pendidikan.

  1. C. Kendali Mutu

Kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang sebagai sebuah seperangkat rencana dan pelaksanaan dalam mencapai visi, misi dan tujuan MI NU Nurul Huda Gulang dalam implementasinya di lapangan perlu dikendalikan agar mencapai tujuan yang diharapkan. Pengendalian mutu pelaksanaan kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang dilakukan secara bertahap, dimulai dari tahap penyusunan rancangan kurikulum, pemutakhiran rancangan kurikulum, penetapan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum. Pengendalian mutu kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang dilakukan  oleh Tim Monitoting dan Evaluasi Implementasi Kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang yang terdiri dari unsure pimpinan dan guru MI NU Nurul Huda Gulang, Komite MI NU Nurul Huda Gulang, jajaran Depag Kota Kudus, dan Dinas Pendidikan Kota Kudus.

Tugas Tim Kendali Mutu Kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang :

(1)           menyusun instrument penelitian dokumen kurikulum MI NU Nurul Huda Gulang

(2)           menyusun instruimen dan monitoring pelaksanaan kurikulum

(3)           menyusun instrument dan melaksanakan evaluasi pelaksanaan kurikulum,

(4)           memberikan laporan tertulis pelaksanaan hasil evaluasi pelaksnaan kurikulum

(5)           memberikan saran-saran perbaikan berdasarkan hasil evaluasi.

Komponen utama yang perlu dikendalikan mutunya adalah :

(1)               kesesuaian antara pengembangan indicator hasil belajar dengan standar kompetensi dan indikator dasar,

(2)               kesesuaian antara pengembangan indikator pencapaian hasil belajar dengan pengalaman belajar yang dikembangkan pada silabus,

(3)               kesesuaian pemilihan strategi pembelajaran dengan karakteristik bahan ajar dan karakteristik siswa MI NU Nurul Huda Gulang

(4)               pencapaian kompetensi siswa sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar di setiap jenjang kelas,

(5)               kesesuaian rancangan pelaksanaan pembelajaran dengan silabus

(6)               pencapaian criteria ketuntasan minimal pada setiap bidang studi di setiap bjenjang dan semester

(7)               ketercapaian visi, misi dan tujuan MI NU Nurul Huda Gulang

Laporan hasil monitoring dan evaluasi implementasi kurikulum tersebut disampaiakan pada kegiatan lokakarya pemutakhiran kurikulum yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 4 tahun sekali dalam forum yang dihadiri oleh Tim Kendali Mutu, Pimpinan Madrasah, Komite Madrasah, dan guru.

Hasil laporan evaluasi dan monitoring tersebut akan ditindaklanjuti dengan pemutakhiran kurikulum dan ditindaklanjuti pelaksanaannya pada tahun ajaran berikutnya setelah disosialisasikan kepda seluruh guru forum kelompok kerja guru di setiap jenjang.

  1. D. Kerjasama/ Kemitraan

Kerjasama/ kemitraan merupakan upaya untuk menjalin kerjasama yang sinergis antara madrasah dengan masyarakat dalam membantu mewujudkan visi dan misi. Kerjasama tersebut dikembangkan dengan harapan akan mampu meningkatkan peran serta masyarakat dalam merancang sebuah kurikulum yang mampu mengadaptsi perkembangan dan kebutuhan masyarakat.

Pada lingkup pengembangan kurikulum, maka kerjasama kemitraan dengan Kantor Departemen Agama, Dinas Pendidikan Kota Kudus dan para akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi di Kudus (Universitas Muria Kudus dan STAIN Kudus) menjadi suatu yang sangat penting. Arah kerjasama tersebut dikembangkan dalam bentuk pemberian pelatihan dan pendampingan dalam hal :

  1. Sosialisasi arah kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan nasional
  2. pembuatan alur penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan
  3. penyusunan visi dan misi
  4. penyusunan indicator pencapaian hasil belajar
  5. pengembangan silabus dan formatnya
  6. pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran dan bentuk formatnya
  7. pengembangan instrument penilaian dan penyusunan rubric
  8. implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan
  9. evaluasi pelaksanaan kurikulum dan penyempurnaannya
  10. pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
  11. pada ruang lingkup pemutakhiran model-model pembelajaran, teknik evaluasi dan supervisi telah dikembangkan dengan menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga terkait.
Oleh: Busyro | Oktober 3, 2009

Daulah Abbasiyah

PENGARUH PERADABAN ISLAM
PADA MASA DAULAH ABABASIYAH

I. PENDAHULUAN
Sebuah masyarakat (Bani Abbasiyah) yang punya kesadaran yang tinggi akan ilmu, hal ini ditunjukan masyarakat yang sangat antusias dalam mencari ilmu, penghargaan yang tinggi bagi para ulama, para pencari ilmu, tempat-tempat menuntut ilmu, banyaknya perpustakaan-perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum dan juga hadirnya perpustakaan Bayt al-Hikmah yang disponsori oleh khalifah pada waktu yang membantu dalam menciptakan iklim akademik yang kondusif. Tak heran jika kita menemukan tokoh-tokoh besar yang lahir pada masa ini. Tradisi intelektual inilah yang seharusnya kita contoh, sebagai usaha sadar keilmuan kita dalam mengejar ketertinggalan dan ini segera lepas dari keterpurukan.
Sejak terbunuhnya Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir dari Dinasti Umayyah oleh seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim Al- Khurasani di Fusthath, Mesir pada bulan Dzulhijjah 132 H bertepatan dengan tahun 750 M, maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa kurang lebih 90 tahun. Dan itu berarti secara resmi sejak itu kekuasaan berpindah ke tangan Bani Abbas yang kemudian lebih dikenal dengan Daulah Abbasiyah.
Daulah Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad, yaitu dari tahun 750 M hingga tahun 1258 M. Masa pemerintahan yang panjang tersebut telah mengukir sejarah keemasan (golden age) dalam peradaban Islam, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun. Ummat Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin peradaban dunia saat itu. Berbagai kemajuan dan perkembangan yang berhasil dicapai selama masa kekuasaan Daulah Abbasiyah, antara lain :
a. Ekspansi wilayah kekuasaan dan pengaruh Islam, dari Baghdad sebagai pusat pemerintahan bergerak ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga Cina. Ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158-169 H/775-785 M).
b. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan syari’at.
c. Pembangunan tempat pendidikan dan tempat peribadatan.
d. Kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.
e. Perkembangan politik, ekonomi dan administrasi
Selain itu, pada masa Daulah Abbasiyah bermunculan beberapa tokoh Ilmuan Islam, seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Ghazali, Al Khawarazimi, Rayhan Al Bairuni, Ibnu Mansur Al Falaky, At Tabrani, Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Jahm Ibnu Sofyan, Washil bin Atha’, Sibawaih, dan lain-lain. Bahkan para ilmuan barat banyak belajar pada mereka.
Dari perjalanan dan rentang sejarah, ternyata Bani Abbas dalam sejarah lebih banyak berbuat ketimbang bani Umayyah. Pergantian Dinasti Umayyah kepada Dinasti Abbasiyah tidak hanya sebagai pergantian kepemimpinan, lebih dari itu telah mengubah, menoreh wajah dunia Islam dalam refleksi kegiatan ilmiah. Pengembangan ilmu pengetahuan pada Bani Abbas merupakan iklim pengembangan wawasan dan disiplin keilmuan.
II. PEMBANGUNAN DAULAH BANI ABBASIYAH
Daulah Bani Abbasiyah diambil dari nama Al-Abbas bin Abdul Mutholib, paman Nabi Muhammad SAW. Pendirinya ialah Abdullah As-Saffah bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas, atau lebih dikenal dengan sebutan Abul Abbas As-Saffah. Daulah Bani Abbasiyah berdiri antara tahun 132 – 656 H / 750 – 1258 M. Lima setengah abad lamanya keluarga Abbasiyah menduduki singgasana khilafah Islamiyah. Pusat pemerintahannya di kota Baghdad.
Tokoh pendiri Daulah Bani Abbasiyah adalah ; Abul Abbas As-Saffah, Abu Ja’far Al-Mansur, Ibrahim Al-Imam dan Abu Muslim Al-Khurasani. Bani Abbasiyah mempunyai kholifah sebanyak 37 orang. Dari masa pemerintahan Abul Abbas As-Saffah sampai Kholifah Al-Watsiq Billah agama Islam mencapai zaman keemasan (132 – 232 H / 749 – 879 M). Dan pada masa kholifah Al-Mutawakkil sampai dengan Al-Mu’tashim, Islam mengalami masa kemunduran dan keruntuhan akibat serangan bangsa Mongol Tartar pimpinan Hulakho Khan pada tahun 656 H / 1258 M.
1. Peta Daerah Perkembangan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah
Pemerintahan daulah Bani Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan daulah Bani Umayyah yang telah hancur di Damaskus. Meskipun demikian, terdapat perbedaan antara kekuasaan dinasti Bani Abbasiyah dengan kekuasaan dinasti Bani Umayyah, diantaranya adalah :
a. Dinasti Umayyah sangat bersifat Arab Oriented, artinya dalam segala hal para pejabatnya berasal dari keturunan Arab murni, begitu pula corak peradaban yang dihasilkan pada dinasti ini.
b. Dinasti Abbasiyah, disamping bersifat Arab murni, juga sedikit banyak telah terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir dan sebagainya.
Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, luas wilayah kekuasaan Islam semakin bertambah, meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Irak, Iran (Persia), Yordania, Palestina, Lebanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afganistan dan Pakistan, dan meluas sampai ke Turki, Cina dan juga India.
2. Bentuk-Bentuk Peradaban Islam Pada Masa Daulah Abbasiyah
Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pada zaman ini, umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan, yaitu melalui upaya penterjemahan karya-karya terdahulu dan juga melakukan riset tersendiri yang dilakukan oleh para ahli. Kebangkitan ilmiyah pada zaman ini terbagi di dalam tiga lapangan, yaitu : kegiatan menyusun buku-buku ilmiah, mengatur ilmu-ilmu Islam dan penerjemahan dari bahasa asing.
Setelah tercapai kemenangan di medan perang, tokoh-tokoh tentara membukakan jalan kepada anggota-anggota pemerintahan, keuangan, undang-undang dan berbagai ilmu pengetahuan untuk bergiat di lapangan masing-masing. Dengan demikian muncullah pada zaman itu sekelompok penyair-penyair handalan, filosof-filosof, ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu hisab, tokoh-tokoh agama dan pujangga-pujangga yang memperkaya perbendaharaan bahasa Arab.
Adapun bentuk-bentuk peradaban Islam pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut :
1) Kota-Kota Pusat Peradaban
Di antara kota pusat peradaban pada masa dinasti Abbasiyah adalah Baghdad dan Samarra. Bangdad merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah yang didirikan Kholifah Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M) pada tahun 762 M. Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan. Ke kota inilah para ahli ilmu pengetahuan datang beramai-ramai untuk belajar. Sedangkan kota Samarra terletak di sebelah timur sungai Tigris, yang berjarak + 60 km dari kota Baghdad. Di dalamnya terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.
2) Bidang Pemerintahan
Pada masa Abbasiyah I (750-847 M), kekuasaan kholifah sebagai kepala negara sangat terasa sekali dan benar seorang kholifah adalah penguasa tertinggi dan mengatur segala urusan negara. Sedang masa Abbasiyah II 847-946 M) kekuasaan kholifah sedikit menurun, sebab Wazir (perdana mentri) telah mulai memiliki andil dalam urusan negara. Dan pada masa Abbasiyah III (946-1055 M) dan IV (1055-1258 M), kholifah menjadi boneka saja, karena para gubernur di daerah-daerah telah menempatkan diri mereka sebagai penguasa kecil yang berkuasa penuh. Dengan demikian pemerintah pusat tidak ada apa-apanya lagi.
Dalam pembagian wilayah (propinsi), pemerintahan Bani Abbasiyah menamakannya dengan Imaraat, gubernurnya bergelar Amir/ Hakim. Imaraat saat itu ada tiga macam, yaitu ; Imaraat Al-Istikhfa, Al-Amaarah Al-Khassah dan Imaarat Al-Istilau. Kepada wilayah/imaraat ini diberi hak-hak otonomi terbatas, sedangkan desa/ al-Qura dengan kepala desanya as-Syaikh al-Qoryah diberi otonomi penuh.
Selain hal tersebut di atas, dinasti Abbasiyah juga telah membentuk angkatan perang yang kuat di bawah panglima, sehingga kholifah tidak turun langsung dalam menangani tentara. Kholifah juga membentuk Baitul Mal/ Departemen Keuangan untuk mengatur keuangan negara khususnya. Di samping itu juga kholifah membentuk badan peradilan, guna membantu kholifah dalam urusan hukum.
3) Bangunan Tempat Pendidikan dan Peribadatan
Di antara bentuk bangunan yang dijadikan sebagai lembaga pendidikan adalah madrasah. Madrasah yang terkenal saat itu adalah Madrasah Nizamiyah, yang didirikan di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara dan Musol oleh Nizam al-Mulk seorang perdana menteri pada tahun 456 – 486 H. selain madrasah, terdapat juga Kuttab, sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah, Majlis Muhadhoroh sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan, serta Darul Hikmah sebagai perpustakaan.
Di samping itu, terdapat juga bangunan berupa tempat-tempat peribadatan, seperti masjid. Masjid saat itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah sholat, tetapi juga sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takhassus. Di antara masjid-masjid tersebut adalah masjid Cordova, Ibnu Toulun, Al-Azhar dan lain sebagainya.
4) Bidang Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu ‘aqli. Ilmu naqli terdiri dari Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits Ilmu Fiqih, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Bahasa. Adapaun ilmu ‘aqli seperti : Ilmu Kedokteran, Ilmu Perbintangan, Ilmu Kimia, Ilmu Pasti, Logika, Filsafat dan Geografi.
III. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN AGAMA DAN SYARI’AT DI MASA DAULAH BANI ABBAS
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama
3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua
4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga masa pengaruh Turki kedua
5. Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Pada periode inilah berhasil disiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani abbas mulai menurun dalam bidang politik, tetapi filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
a. Perkembangan Ilmu dan Metode Tafsir Al Qur’an
Perkembangan metode tafsir di masa Daulah abbasiyah ditandai dengan munculnya dua metode penafsiran Al Qur’an, yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi . Diantara para ahli tafsir bi al-ma’tsur adalah:
1. Ibn Jarir Al-Thabari dalam tafsirnya Jami’Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an yang lebih dikenal dengan tafsir Al-Thabari. Tafsir ini merupakan tafsir yang terpenting dari tafsir bi al-ma’t (interpretasi taradisional),hasil karya beliau terdiri dari 30 jilid dan terkenal karena ketelitiannya dan kesaksamaannya. Banyak materinya berasal dari sumber autentik Yahudi seperti yang ditulis oleh Ka’b Al-Ahbar dan Wahb Ibn Munabbin.
2. Ibn ‘Athiyah Al-Andalusy
3. As Sudai yang mendasarkan tafsirnya kepada Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud Radiyallahu ‘Anhuma.
4. Muqatil Ibn Sulaiman yang tafsirnya terpengaruh oleh kitab Taurat.
Sedangkan ahli tafsir tafsir bi al-ra’yi adalah:
a) Abu Bakar Asam (Mu’tazilah)
b) Abu Muslim Muhammad ibn Bahar Isfahany (Mu’tazilah)
c) Ibn Jarul Asadi (Mu’tazilah), dan
d) Abu Yunus Abdussalam (Mu’tazilah)
Kedua metode tafsir di atas sangat berkembang di masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fikih dan, terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan ummat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.
b. Perkembangan Ilmu Hadits
Hadits pada zamannya hanya bersifat penyempurnaan pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah hadits mulai diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadits Shahih, Dhaif, dan Maudhu. Bahkan dikemukakan pula kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarah dan takdil rawi yang meriwayatkan hadits tersebut.
Pada masa ini muncullah ahli-ahli hadits, antara lain:
 Imam Bukhari, yaitu Imam Abu Abdullah Muhammad Ibn Abi al-Hasan Al-Bukhari. Lahir di Bukhara tahun 194 H dan wafat tahun 256 H di Baghdad.
 Imam Muslim, yaitu Imam Abu Muslim Ibn Al-Hajjaj Al Qushairy An Naishabury, wafat tahun 261 H di Naishabur.
c. Perkembangan Ilmu Qira’at
Qira’ah Sab’ah menjadi termasyhur pada permulaan abad kedua hijriyah, dibukukan sebagai sebuah ilmu pada penghujung abad ketiga hijriyah di Baghdad oleh Imam Ibn Mujahid Ahmad bin Musa Ibnu Abbas, beliau amat teliti, tidak mau meriwayatkan kecuali dari orang yang kuat ingatannya (dhabit), dapat dipercaya dan panjang umur dalam mengikuti qira’ah. Disamping itu harus ada kesepakatan mengambil atau memberi darinya.
Dari data ini dapat diambil kesimpulan bahwa di zaman pemerintahan Bani Abbas perkembangan ilmu Qira’at mencapai puncaknya. Diantara ahli qira’at yang terkenal di masa pemerintahan Bani Abbas periode Pertama, adalah:
1. Yahya bin Al-Harits Adz Dzamary wafat tahun 145 H
2. Hamzah bin Habib Az Zayyat wafat tahun 156 H di zaman pemerintahan khalifah Abu Ja’far Al Manshur (136 – 158 H)
3. Abu Abdirrahman Al Muqry wafat tahun 213 H, dan
4. Khalaf Bin Hisyam Al Bazzaz wafat tahun 229 H.
d. Perkembangan Ilmu Fiqhi
Dalam bidang fiqih, pada masa ini lahir fuqaha legendaris yang kita kenal, seperti Imam Abu Hanifah (700 – 767 M), Imam Malik (713 – 795 M), Imam Syafi’i (767 – 820 M) dan Imam Ahmad Ibn Hambal (780 – 855 M).
e. Perkembangan Ilmu Kalam
Perdebatan para ahli mengenai soal dosa, pahala surga dan neraka, serta pembicaraan mereka mengenai ketuhanan dan tauhid, menghasilkan suatu ilmu, yaitu ilmu tauhid atau ilmu kalam.
Diantara aliran ilmu kalam yang berkembang adalah Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Para pelopornya adalah Hahm Ibn Safwan, Ghilan al-Dimisyq, Wasil ibn ‘Atha’, al-Asy’ari dan Imam al-Ghazali.

f. Perkembangan Ilmu Bahasa
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat efektif. Ia tidak hanya dipergunakan dalam berkomunikasi lewat lisan, tetapi juga dipergunakan sebagai alat untuk mengekspresikan seni, di samping sebagai bahasa ilmiah. Diantara ilmu bahasa yang berkembang pada waktu itu adalah Nahwu, Sharaf, Bayan, Bad’i dan Arudh. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyyah ilmu ini mengalami perkembangan sangat pesat. Sebab bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, di samping sebagai alat komunikasi antara bangsa. Pusat perkembangan ilmu bahasa Arab adalah Kufah dan Bashra. Diantara para ahli ilmu bahasa yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu bahasa adalah:
a) Sibawaih (wafat tahun 183 H). Karyanya terdiri dari dua jilid setebal 1000 halaman.
b) Al-Kisai, wafat tahun 198 H.
c) Abu Zakaria al-Farra (wafat tahun 208 H). Kitab Nahwunya terdiri dari 6000 halaman lebih.
g. Perkembangan Adab (Ilmu Sastra)
Penyair bangsa Arab sebelum zaman dianggap sebagai orang yang mempunyai ilmu pengetahuan tinggi, tukang sihir bergabung dengan jin dan setan dan menggantungkan kepada mereka untuk syair magic yang diinspirasikan kepadanya.
Di antara para penyair terkenal yaitu:
1) Imri’ul-Qays, kakeknya merupakan raja dari suku Kinda.
2) Turrafa ibn al-‘Abd, anggota suku Bake di Bahrein, menetap di teluk Persia.
3) Amr ibn Khulthum yang berasal dari suku Taghlib dan Ibunya Layla adalah saudara perempuan penyair dan prajurit terkenal. Muhalil.
4) Harrir ibn Hiullisa dari suku Bakr.
5) Zihayr ibn Abi Sulma dari suku Muzayna.
6) Labib ibn Abi Rabi’a dari suku banu Amir.
Faktor-faktor penyebab berkembang pesatnya Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at di masa pemerintahan Abbasiyah adalah sebagai berikut:
1. Para penguasanya cinta kepada ilmu dan banyak memberikan motivasi kuat kepada para ilmuan untuk melakukan kajian-kajian ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. Baik ilmu agama dan syari’at (Al Ulum al- Naqliyah) yang merupakan fondasi kehidupan, maupun ilmu-ilmu umum (Al Ulum al-Aqliyah) yang merupakan penopang kehidupan. Adalah Al Ma’mun, khalifah pengganti Al-Rasyid, dikenal sebagi khalifah yang sanagt cinta kepada ilmu.
2. Sikap dan kebijaksanaan para penguasanya dalam mengatasi segala persoalan, termasuk dalam sikap politiknya. Sebab sikap politik dinasti Abbasiyah berbeda dengan sikap politik yang dijalankan pemerintahan Bani Umayyah. Dinasti Umayyah sangat fanatik terhadap keturunan Arab (Arab Orientid), tetapi dinasti Abbasiyah lebih bersifat demokratis, meskipun tampuk pemerintahan masih tetap berada di tangan khalifah dari keturunan Arab.
3. Penyediaan sarana dan prasarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
4. Terjadinya asimilasi antar bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
IV. KEMUNDURAN DAULAH BANI ABBASIYAH
Kehancuran Dinasti Abbasiyah ini tidak erjadi dengan cara spontanitas, melainkan melalui proses yang panjang yang diawali oleh berbagai pemeberontakan dari kelompok yang tidak senang terhadap kepemimpinan kholifah Abbasiyah. Disamping itu juga, kelemahan kedudukan kekholifahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, disebabkan oleh luasnya wilayah kekuasaan yang kurang terkendali, sehingga menimbulkan disintegrasi wilayah.
Di antara kelemahan yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut :
a. Mayoritas Kholifah Abbasiyah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadinya dan cenderung hidup mewah.
b. Luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan.
c. Ketergantungan kepada tentara bayaran.
d. Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki dan Persia, yang menimbulkan kecemburuan bagi bangsa Arab murni.
e. Permusuhan antara kelompok suku dan agama.
f. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang dan menelan banyak korban.
g. Penyerbuan tentara Mongol di bawah pimpinan Panglima Hulagu Khan yang menghacur leburkan kota Baghdad.
V. KESIMPULAN
1. Zaman pemerintahan Bani Abbas (Daulah Abbasiyah) merupakan zaman keemasan Islam dalam sepanjang sejarah peradaban Islam. Hal ini ditandai dengan berkembang pesatnya Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at, seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Qira’at, Hadits, Fiqh, Bahasa dan Retorika, Ilmu Kalam, Ilmu Sastra maupun ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti Filsafat, Kedokteran, ilmu administrasi, Ilmu Teknik, Matematika, farmasi dan Kimia, Astronomi, Sejarah dan Geografi, Ilmu Optik dan lain-lain.
2. Faktor-faktor berkembangnya ilmu pengetahuan agama dan syari’at di masa pemerintahan Bani Abbas, adalah:
a. Para penguasanya cinta kepada ilmu dan banyak memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan agama.
b. Sikap dan kebijaksanaan politik yang kondusif.
c. Penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
VI. PENUTUP
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa kekuasaan Dinasti Abbasiyah merupakan masa gemilang kemajuan dunia Islam dalam aspek perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan tersebut pada dasarnya merupakan andil dari pengaruh peradaban Yunani yang sempat masuk ke dunia Islam. Sehingga selanjutnya, beberapa tokoh dalam literatur sejarah menghiasai perkembangan pemikiran hingga di era modern. Bahkan, pada masa kejayaan tersebut orang-orang Barat menjadikan wilayah timur sebagai pusat perabadan untuk menggali ilmu pengetahuan.
Pada masa inilah Islam meraih kejayaanya. Banyak kontribusi keilmuan yang disumbangkan. Karya dan tokoh-tokohnya telah menjadi inspirasi dalam pengembangan keilmuan, oleh karena itu masa ini dikatakan sebagai masa keemasan Islam walau akhirnya peradaban Islam mengalami kemunduran dan kehancuran di bidang keilmuan bersamaan dengan berakhirnya pemerintahan Abbasiyah.
Demikian makalah ini saya susun dengan menganalisa dari berbagai sumber kepustakaan yang sudah saya pelajari. Saya sadar masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Hal ini dikarenakan minimnya buku referensi yang saya pelajari, serta keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan guna perbaikan dalam penyusunan berikutnya.
Dari kajian ini, diharapkan mampu menyadarkan kita akan pentingnya lingkungan intelektual yang kondusif dan memotivasi untuk mencari ilmu. Belajar sejarah akan tidak ada gunanya jika kita tidak bisa mengambil pelajaran darinya. Amin
Akhirnya tiada gading yang tak retak, seperti halnya kami tiada manusia tanpa salah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi khususnya dan bagi khalayak pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Karim. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, PT Pustaka Book Publusher Yogyakarta 2007
Departemen Agama RI. Sejarah Kebudayaan Islam Untuk Madrasah Aliyah Keagamaan, 2002
Harun Nasution. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press. 1999.
Nurcholish Madjid (edit.). Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1994.
Prof. Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. Sejarah peradaban Islam. Pustika Bani Quraisy. Bandung 2004.

Oleh: Busyro | Oktober 1, 2009

Sya`ir Burdah Indonesia

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 5

MUKZIJAT NABI MUHAMMAD SAW

Pohon-pohon mendatangi seruannya dengan ketundukkan
Berjalan dengan batangnya dengan lurus dan sopan

Seakan batangnya torehkan sebuah tulisan
Tulisan yang indah di tengah-tengah jalan

Seperti juga awan gemawan yang mengikuti Nabi
Berjalan melindunginya dari sengatan panas siang hari

Aku bersumpah demi Allah pencipta rembulan
Sungguh hati Nabi bagai bulan dalam keterbelahan

Gua Tsur penuh kebaikan dan kemuliaan. Sebab Nabi
dan Abu Bakar di dalamnya, kaum kafir tak lihat mereka

Nabi dan Abu Bakar Shiddiq aman didalamnya tak cedera
Kaum kafir mengatakan tak seorang pun didalam gua

Mereka mengira merpati takkan berputar diatasnya
Dan laba laba takkan buat sarang jika Nabi didalamnya

Perlindungan Allah tak memerlukan berlapis baju besi
Juga tidak memerlukan benteng yang kokoh dan tinggi

Tiada satu pun menyakiti diriku, lalu kumohon bantuan Nabi
Niscaya kudapat pertolongannya tanpa sedikit pun disakiti

Tidaklah kucari kekayaan dunia akhirat dari kemurahannya
Melainkan kuperoleh sebaikbaik pemberiannya

Janganlah kau pungkiri wahyu yang diraihnya lewat mimpi
Karena hatinya tetap terjaga meski dua matanya tidur terlena

Demikian itu tatkala sampai masa kenabiannya
Karenanya tidaklah diingkari masa mengalami mimpinya

Maha suci Allah, wahyu tidaklah bisa dicari
Dan tidaklah seorang Nabi dalam berita gaibnya dicurigai

Kerap sentuhannya sembuhkan penyakit
Dan lepaskan orang yang berhajat dari temali kegilaan

Doanya menyuburkan tahun kekeringan dan kelaparan
Bagai titik putih di masa-masa hitam kelam

Dengan awan yang curahkan hujan berlimpah
Atau kau kira itu air yang mengalir dari laut atau lembah

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 4

KELAHIRAN SANG NABI MUHAMMAD SAW

Kelahiran Sang Nabi menunjukkan kesucian dirinya
Alangkah eloknya permulaan dan penghabisannya

Lahir saat bangsa Persia berfirasat dan merasa
Peringatan akan datangnya bencana dan angkara murka

Dimalam gulita singgasana kaisar Persia hancur terbelah
Sebagaimana kesatuan para sahabat kaisar yang terpecah

Karena kesedihan yang sangat, api sesembahan padam
Sungai Eufrat pun tak mengalir dari duka yang dalam

Penduduk negeri sawah bersedih saat kering danaunya
Pengambil air kembali dengan kecewa ketika dahaga

Seakan sejuknya air terdapat dalam jilatan api
Seakan panasnya api terdapat dalam air, karena sedih tak terperi

Para jin berteriak sedang cahaya terang memancar
Kebenaran pun tampak dari makna kitab suci maupun terujar

Mereka buta dan tuli hingga kabar gembira tak didengarkan
Datangnya peringatan pun tak mereka hiraukan

Setelah para dukun memberi tahu mereka
Agama mereka yang sesat takkan bertahan lama

Setelah mereka saksikan kilatan api yang jatuh dilangit
Seiring dengan runtuhnya semua berhala dimuka bumi

Hingga lenyap dan pintu langitNya
Satu demi satu syetan lari tunggang langgang tak berdaya

Mereka berlarian laksana lasykar Raja Abrahah
Atau bak pasukan yang dihujani kerikil oleh tangan Rasul

Batu yang Nabi lempar sesudah bertasbih digenggamannya
Bagaikan terlemparnya Nabi Yunus dan perut ikan paus.

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 3

Pujian Kepada Nabi SAW

Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam.
Beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram.

Nabi yang karena lapar mengikat pusarnya dengan batu.
Dan dengan batu mengganjal Perutnya yang halus itu.

Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya.
la tolak permintaan itu dengan perasaan bangga.

Butuh harta namun menolak, maka tambah kezuhudannya.
Kendati butuh pada harta tidaklah merusak kesuciannya.

Bagaimana mungkin Nabi butuh pada dunia.
Padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada.

Muhammadlah pemimpin dunia akherat.
Pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan non Arab.

Nabilah pengatur kebaikan pencegah mungkar.
Tak satu pun setegas ia dalam berkata ya atau tidak.

Dialah kekasih Allah yang syafa’atnya diharap.
Dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap.

Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus.
Mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus.

Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa.
Tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliaannya.

Para Nabi semua meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.

Para Rasul sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.

Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia.

Dalam kebaikanya, tak seorang pun menyaingi.
Inti keindahannya takkan bisa terbagi-bagi.

Jauhkan baginya yang dikatakan Nasrani pada Nabinya.
Tetapkan bagi Muhammad pujian apapun kau suka.

Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu.
Dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mau.

Karena keutamaannya sungguh tak terbatas.
Hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata.

Jika mukjizatnya menyamai keagungan dirinya.
Niscaya hiduplah tulang belulang dengan disebut namanya.

Tak pernah ia uji kita dengan yang tak diterima akal.
Dari sangat cintanya, hingga tiada kita ragu dan bimbang.

Seluruh mahluk sulit memahami hakikat Nabi.
Dari dekat atau jauh, tak satu pun yang mengerti.

Bagaikan matahari yang tampak kecil dari kejauhan.
Padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan.

Bagaimana seseorang dapat ketahui hakikat Sang Nabi
Padahal ia sudah puas bertemu dengannya dalam mimpi

Puncak Pengetahuan tentangnya ialah bahwa ia manusia
Dan ia adalah sebaik baik seluruh ciptaan Allah

Segala mukjizat para Rasul mulia sebelumnya
Hanyalah pancaran dari cahayanya kepada mereka

Dia matahari keutamaan dan para Nabi bintangnya
Bintang hanya pantulkan sinar mentari menerangi gulita

Alangkah mulia paras Nabi yang dihiasi pekerti
Yang memiliki keindahan dan bercirikan wajah berseri

Kemegahannya bak bunga, kemuliaannya bak purnama
Kedermawanannya bak lautan, kegairahannya bak sang waktu

la bagaikan dan memang tiada taranya dalam keagungan
Ketika berada di sekitar pembantunya dan di tengah pasukan

Bagai mutiara yang tersimpan dalam kerangnya
Dari kedua sumber, yaitu ucapan dan senyumannya

Tiada keharuman melebihi tanah yang mengubur jasadnya
Beruntung orang yang menghirup dan mencium tanahnya

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 2

Peringatan akan Bahaya Hawa Nafsu

Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak tersadarkan.
Sebab tak mau tahu peringatan uban dan kerentaan.

Tidak pula bersiap dengan amal baik untuk menjamu.
Sang uban yang bertamu di kepalaku tanpa malu-malu.

Jika kutahu ku tak menghormati uban yang bertamu.
Kan kusembunyikan dengan semir rahasia ketuaanku itu.

Siapakah yang mengembalikan nafsuku dari kesesatan.
Sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang.

Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat.
Sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap.

Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu.
Bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu.

Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa.
Jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela

Gembalakanlah ia, ia bagai ternak dalam amal budi.
Janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai.

Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang mematikan.
Tanpa ia tahu racun justru ada dalam lezatnya makanan.

Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa berbuat.
Kusamakan itu dengan keturunan bagi orang mandul.

Kuperintahkan engkau suatu kebaikan yang tak kulakukan.
Tidak lurus diriku maka tak guna kusuruh kau lurus.

Aku tak berbekal untuk matiku dengan ibadah sunnah.
Tiada aku dan puasa kecuali hanya yang wajib saja.

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 1

Cinta Sang Kekasih

Apakah karena Mengingat Para kekasih di Dzi Salam.
Kau campurkan air mata di pipimu dengan darah.

Ataukah karena angin berhembus dari arah Kazhimah.
Dan kilat berkilau di lembah Idlam dalam gulita malam.

Mengapa bila kau tahan air matamu ia tetap basah.
Mengapa bila kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah.

Apakah sang kekasih kira bahwa tersembunyi cintanya.
Diantara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora.

Jika bukan karena cinta takkan kautangisi puing rumahnya.
Takkan kau bergadang untuk ingat pohon Ban dan ‘Alam.

Dapatkah kau pungkiri cinta, sedang air mata dan derita.
Telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta.

Kesedihanmu timbulkan dua garis tangis dan kurus lemah.
Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah.

Memang terlintas dirinya dalam mimpi hingga kuterjaga.
Tak hentinya cinta merindangi kenikmatan dengan derita.

Maafku untukmu wahai para pencaci gelora cintaku.
Seandainya kau bersikap adil takkan kau cela aku.

Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku.
Padahal tidakjuga kunjung sembuh penyakitku.

Begitu tulus nasihatmu tapi tak kudengar semuanya.
Karena untuk para pencaci, sang pecinta tuli telinganya.

Aku kira ubanku pun turut mencelaku.
Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.

Oleh: Busyro | September 30, 2009

Problematika Kurikulum PAI

I.             PENDAHULUAN
Proses Implementasi kurikulum 2004 yang telah mendapatkan penyesuaian menjadi model pengelolaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006 di Madarasah belum secara keseluruhan menjangkau tiap guru bidang studi pendidikan agama Islam. Hal ini diperkuat oleh suatu kenyataan bahwa perangkat konseptual kebijakan kurikulum ini justru belum dimiliki secara utuh oleh sekolah. Persoalan lain dalam proses implementasi kurikulum ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, sikap dan ketrampilan guru yang beragam, termasuk faktor kualifikasi, latar belakang pendidikan, pengalaman inservice training atau pelatihan serta pembinaan yang diterima guru di Madasah.
Persoalan lain yang menjadi kendala dalam implementasi isi kurikulum menyangkut waktu yang disediakan belum memadai untuk muatan materi yang begitu padat dan memang penting; yakni menuntut pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan keperibadian bagi peserta didik. Kelemahan lain, bidang studi pendididkan agama yang terdiri dari Aqidah Akhlak, al-Qur’an Hadist, Fiqih, Bahasa Arab dan Sejarah Kebudayaan Islam lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik). Dalam implementasinya juga lebih didominasi pencapaian kemampuan kognitif. Kurang mengakomodasikan kebutuhan afektif dan psikomotorik. Kendala lain adalah kurangnya keikutsertaan guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Lalu lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif, minimnya berbagai sarana pelatihan dan pengembangan, serta rendahnya peran serta orang tua peserta didik. Ini semua sangat berpengaruh terhadap proses implementasi sebuah kurikulum.
Pokok permasalahan yang menjadi sumber utama problematika pendidikan agama di Madrasah selama ini hanya dipandang melalui aspek kognitif atau nilai dalam bentuk angka saja, tidak dipandang bagaimana siswa didik mengamalkan dalam dunia nyata sehingga belajar agama sebatas menghafal dan mencatat. Hal ini mengakibatkan pelajaran agama menjadi pelajaran teoritis bukan pengamalan atau penghayatan terhadap nilai agama itu sendiri. Paulo Freire menegaskan bahwa fungsi pendidikan adalah untuk pembebasan, bukan untuk penguasaan. Tujuan pendidikan adalah untuk menggarap realitas manusia, dan karena itu secara metodologis bertumpu pada prinsip-prinsip aksi dan refleksi total, yakni prinsip bertindak untuk mengubah kenyataan yang menindas dan pada sisi lainnya secara terus-menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk mengubah kenyataan yang menindas.
II.          PEMBAHASAN
Sehubungan dengan hal di atas, cara berpikir kita sepertinya harus diubah. Hal ini mengingat bahwa pendidikan itu penting. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989. Oleh karena perubahan zaman yang makin modern maka kurikulum juga harus dapat beradaptasi dengan perubahan itu sendiri. Guru juga harus kreatif mengaplikasikan materi pendidikan agama sesuai dengan situasi murid. Gaya bercerita, diskusi, problem-solving (pemecahan masalah), dan simulasi adalah alternatif positif yang dapat dimasukkan dalam metode yang tepat untuk pembelajaran agama. Menurut Al Nawawi, metode pengajaran yang sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadist meliputi :
  1. Metode Hiwar Qur’ani dan Nabawi: dialog yang mengarah pada tujuan pendidikan.
  2. Metode kisah Qur’ani dan Nabawi: kisah menarik dan diambil keteladanannya untuk dijadikan panutan.
  3. Metode Amtsal: membaca teks untuk mempermudah siswa dalam memahami suatu konsep.
  4. Metode Teladan: menggunakan keteladanan dalam memnanamkan penghayatan dan pengamalan materi tersebut.
  5. Metode Pembiasaan: pengulangan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan.
  6. Metode Ibrah dan Mauziah: menelaah ibrah dari kisah dengan nasihat yang lembut dan menyentuh.
  7. Metode Targhib dan Tahrib: didasarkan kepada ganjaran dan hukuman.
  8. Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa didik dengan Allah.
Dalam hal ini, menurut Seyyed Hossein Nasr bahwa guru bukan sekedar menjadi penyampai ilmu (mu’allim), akan tetapi lebih dititikberatkan sebagai murobbi untuk melatih jiwa dan kepribadian, murobbi akan selalu mengawasi perkembangan materi yang disampaikan dalam perkembangan akhlak siswa didik. Perlunya kesadaran siswa didik sebagai khalifatullah fil ‘ardh akan membangun semangat bahwa agama tidak sebatas ritual saja. Akan tetapi, akan membangun toleransi, menjunjung kebenaran, dan keadilan. Dengan hal ini, agama berfungsi sebagai media penyadaran. Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi dalam pendidikan agama, yakni:

Apakah pendidikan agama mampu diterapkan oleh siswa didik untuk beribadah kepada Allah.

  1. Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa didik dengan masyarakat.

Dengan mempelajari pelajaran agama diharapkan siswa mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

  1. Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa didik dengan alam.

Untuk bisa berinteraksi serta memanfaatkan kekaayaan alam sesuai dengan tuntunan agama.

Sehubungan dengan itu, guru harus mampu mengevaluasi peserta didiknya secara terus-menerus, menyeluruh, dan ikhlas walaupun peran dan wewenangnya terbatas dapat bermakna dalam membina dan membimbing generasi penerus bangsa dari kegersangan rohani.
Upaya Pendidikan Agama Islam Mengatasi Kurikulum 2004
Secara garis besar aplikasi konsep analisa kebutuhan peningkatan mutu ‎pendidikan agama Islam di sekolah formal dalam menghadapi era globalisasi dalam ‎kaitannya dengan persaingan di segala bidang yang amat tinggi dan pengaruh dampak ‎negative era globalisasi diperlukan aplikasi analisa kebutuhan secara mikro dan makro.‎
Namun di sini penulis hanya merumuskan aplikasi analisa kebutuhan secara ‎mikro karena aplikasi analisa kebutuhan secara makro cakupannya sangat luas seiring ‎dengan kebijakan yang diambil pemerintah. Analisa secara mikro di sini adalah; ‎
a.       Strategi Pembelajaran
Tujuan pembelajaran agama Islam yang harus dirumuskan dengan bentuk ‎behavioral atau berbentuk tingkah laku dan juga measurable atau bisa diukur. Hal ‎ini membutuhkan strategi pembalajaran yang khusus. ‎
Strategi disini adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh guru dengan ‎sengaja yang meliputi metode, materi, sarana prasarana, materi, media dan lain ‎sebagainya agar siswa dipermudah dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ‎ditetapkan.
b.       ‎Metode Pembelajaran Agama Islam.‎
Pendidikan agama Islam sebenarnya tidak hanya cukup dilakukan ‎dengan pendekatan teknologik karena aspek yang dicapai tidak cukup kognitif ‎tetapi justru lebih dominan yang afektif dan psikomotorik, maka perlu pendekatan ‎yang bersifat nonteknologik. Pembelajaran tentang akidah dan akhlak lebih ‎menonjolkan aspek nilai, baik ketuhanan maupun kemanusiaan yang hendak ‎ditanamkan dan dikembangkan pada diri siswa sehingga dapat melekat menjadi ‎sebuah kepribadian yang mulia. ‎
Sehingga menurut Noeng Muhajir ada beberapa strategi yang bisa ‎digunakan dalam pembelajaran nilai yaitu : tradisional maksudnya dengan ‎memberikan nasehat dan indoktrinasi, bebas maksudnya siswa diberi kebebasan ‎nilai yang disampaikan, reflektif maksudnya mondar-mandir dari pendekatan ‎teoritik ke empiric, transiternal maksudnya guru dan siswa sama-sama terlibat ‎dalam proses komunikasi aktif tidak hanya verbal dan fisik tetapi juga melibatkan ‎komunikasi batin.
c.       .‎Materi Pembelajaran Agama Islam.‎
Disamping perlu adanya reformulasi materi-materi PAI yang selama ini ‎menjebak pada ranah kognitif dengan mengabaikan ranak psikomotorik dan ‎afektif, materi PAI dipandang masih jauh dari pendekatan pendidikan multi ‎cultural, akibatnya masih banyak kerusuhan yang dipicu dari masalah SARA. ‎
Untuk itu materi pendidikan agama hendaknya merupakan sarana yang ‎efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai atau aqidah inklusif pada peserta didik. ‎Selain itu, pada masalah-masalah syari’ah pendidikan agama Islam selama ini ‎mencetak umat Islam yang selalu bertengkar antar pengikut madzhab. ‎
Maka dalam hal ini pendidikan Islam perlu memberikan pelajaran “fiqih ‎muqarran” untuk memberikan penjelasan adanya perbedaan pendapat dalam Islam ‎dan semua pendapat itu sama-sama memiliki argumen, dan wajib bagi kita untuk ‎menghormati. Sekolah tidak menentukan salah satu mazhab yang harus diikuti ‎oleh peseta didik, pilihan mazhab terserah kepada mereka masing-masing.
d.       ‎Sumber Daya Guru Agama
Pada saat ini ada kecenderungan untuk menunjuk guru sebagai salah satu ‎factor penyebab minimnya kualitas lulusan siswa. Kritikan mulai dari ketidak ‎efektifnya guru dalam menjalankan tugas, kurangnya motivasi dan etos kerja, ‎sampai kepada ketidak mampuan guru dalam mendidik dan mengajar kepada ‎anak didiknya.‎
Untuk meningkatkan motivasi dan etos kerja guru maka factor ‎pemenuhan kebutuhan sangat berpengaruh. Untuk itu bagaimana mengarahkan ‎kekuatan yang ada dalam diri guru untuk mau melakukan tingkat upaya yang ‎tinggi ke arah tujuan yang telah ditetapkan.‎ Berbicara tentang motivasi tidak lepas kaitannya dengan beberapa ‎pandangan tentang terbentuknya kepribadian manusia melalui proses pola awal ‎terbentuknya motivasi dan beberapa teori kebutuhan manusia. Suparmin mengutip ‎Mc.Cleland yang mengelompokkan kebutuhan manusia kaitannya dengan ‎peningkatan motivasi dalam tugasnya sebagai guru adalah; need for achievement/ ‎kebutuhan untuk berprestasi, need for power/ kebutuhan untuk berkuasa, need for ‎affiliation/ kebutuhan untuk berafiliasi ‎. Bila ketiga kebutuhan terpenuhi maka ‎motivasi dan etos kerja seorang guru akan tumbuh dan berkembang sebagimana ‎yang diharapkan.‎
Dengan motivasi dan etos kerja yang tinggi guru agama akhirnya menjadi ‎penggerak penjiwaan dan pengalaman agama yang mencerminkan pribadi yang ‎taqwa, berakhlaq mulia, luhur dan menempati perananan suci dalam mengelola ‎kegiatan pembelajaran, maka dibutuhkan guru yang dirumuskan Zakiyah Darajat ‎ ‎dan Husni Rahim ‎ sebagai berikut : mencintai jabatannya, bersikap adil, sabar ‎tenang, menguasai metode dan kepemimpinan, berwibawa, gembira, manusiawi ‎dan dapat bekerja sama dengan masyarakat.
Dan tentunya juga dibantu guru bidang studi lain dengan menunjukkan ‎keteladanan bagi siswa sebagai seorang yang beragama yang baik. Apalagi iman ‎dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan prasyarat utama bagi ‎setiap guru, yang secara praktis akan berimplikasi pada keharusan setiap guru ‎untuk mengimplementsikan nilai-nilai akhlak yang mulia dalam setiap pelajaran.‎
Menurut Muhaimin bila ada peserta didik yang terlibat narkoba misalnya, ‎maka hal itu bukan merupakan kegagalan guru PAI saja, tetapi juga merupakan ‎kegagalan dari guru IPA, IPS dan PPKn. Bila ada siswa yang suka hidup boros, ‎itu juga kegagalan guru matematika dan ekonomi dan bila siswa suka merusak ‎lingkungan itu termasuk kegagalan guru IPA dan seterusnya ‎. ‎
e.       Fasilitas dan Media Pengajaran
Salah satu factor yang dibutuhkan dalam peningkatan mutu pendidikan ‎agama Islam di sekolah formal saat ini adalah : tempat ibadah (masjid atau ‎musholla), ruang bimbingan dan penyuluhan agama, laboratorium keagamaan dan ‎computer berbasis internet.
Laboratorium tidak hanya dibutuhkan untuk pembelajaran ilmu bahasa ‎dan ilmu eksakta saja, tetapi semua materi pelajaran juga membutuhkan ‎laboratorium termsuk pelajaran agama Islam. Di dalam laboratorium akan ‎dilengkapi media-media pembelajaran.
Media pembelajaran yang bersifat audio visual sangat penting untuk ‎tercapainya tujuan pembelajaran, karena media pembelajaran ini berfungsi untuk ‎memberikan pengalaman konkret kepada siswa. Bila guru menyampaikan materi ‎agama dengan bermain kata-kata saja maka materi itu bersifat abstrak sama ketika ‎guru-guru di Eropa mengajar bahasa Latin pada abad 17‎.
Muhaimin mengusulkan lima cara yang dijadikan dasar pertimbangan ‎dalam pemilihan sarana/ media pembelajaran PAI yaitu; (1) tingkat kecermatan ‎representasi, (2) tingkat interaktif yang ditimbulkan, (3) tingkat kemampuan ‎khusus, (4) tingkat motivasi yang ditimbulkan, (5) tingkat biaya yang ‎diperlukan.
f.        Instrumen Penunjang
Mengingat pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang universal ‎maka, dibutuhkan instrument penunjang antara lain : school culture, extra ‎kurikuler keagamaan, tim penggerak proses pendidikan keagamaan ( kepala ‎sekolah, dewan, guru, karyawan, komite, masyarakat sekitar, LSM dan alumni)‎.
‎Memperhatikan tuntutan pendidikan agama Islam di ‎madrasah dan sekolah-sekolah umum dilaksanakan dengan beberapa strategi di ‎antaranya : pertama penyempurnaan kurikulum pendidikan agama agar materi ‎pelajarannya mencapai komposisi yang proporsional dan fungsional tetapi tidak ‎membebani siswa. Kedua, memadukan materi agama dengan materi pendidikan budi ‎pekerti misalnya PPKn atau pelajaran lainya yang terkait hal ini juga dapat mengikis ‎dikotomi ilmu. Ketiga, menciptakan kondisi agamis di lingkungan sekolah.‎
Dalam kaitan ini diperlukan adanya serangkaian kegiatan strategis lainnya ‎antara lain: (1) mengidentifikasi isu-isu sentral yang bermuatan moral dalam masyarakat ‎untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan ‎metode klarifikasi nilai (2) mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan siswa dalam ‎pembelajaran pendidikan moral agar tercapai moral yang komprehensif yaitu kematangan ‎dalam pengetahuan moral perasaan moral,dan tindakan moral,(3) mengidentifikasi dan ‎menganalisis masalah-masalah dan kendala-kendala instruksional yang dihadapi oleh para ‎guru di sekolah dan para orang tua murid di rumah dalam usaha membina perkembangan ‎moral siswa, serta berupaya memformulasikan alternatif pemecahannya,(4) ‎mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai-nilai moral yang inti dan universal yang dapat ‎digunakan sebagai bahan kajain dalam proses pendidikan moral,(5) mengidentifikasi ‎sumber-sumber lain yang relevan dengan kebutuhan belajar pendidikan moral. Terkait ‎dengan pelajaran budi pekerti ini,sebenarnya telah banyak pelajaran yang diajarkan di ‎sekolah yang menitik beratkan pada etika moral dan adab yang santun seperti pendidikan ‎Agama, PPKn dan BK (Bimbingan Konseling)‎.
‎.Selanjutnya pengajaran agama Islam diajarkan sebagai perangkat sistem yang ‎satu sama lain saling terkait dan mendukung yang mencakup : guru agama yang layak dan ‎cocok tidak under qualified, tidak mismatch ‎, adanya kerja sama dengan guru mata ‎pelajaran lain, profesionalitas pimpinan sekolah, kurikulum yang baik , metode yang tepat ‎di antaranya metode praktek/ role playing , materi pembiasaan, sholat dzuhur berjamaah, ‎kelengkapan sarana dan masjid dan kerjasama orang tua tokoh formal, aparat ‎pemerintah.‎
Selanjutnya Husni Rahim mengajak pelaku pendidikan agama Islam di sekolah ‎formal untuk mempertegas visi pendidikan Islam dengan cakupan bahwa visi itu sebagai ‎berikut : Karakter Islami yaitu (1) orientasi holistic artinya kesadaran sebagai pribadi ‎muslim di segala situasi dan kondisi terutama di sekolah, dengan menempatkan nilai-nilai ‎spiritual dan transedental dalam pencapaian tujuan pendidikan strategi pembelajaran yang ‎tidak verbalistik sehingga mudah dikembangkan ketrampilan dan wawasannya secara ‎terpadu, (2) populis yaitu Sekolah/ madrasah dilaksanakan dengan semangat yang ‎merakyat, karena manusia membutuhkan persaudaraan, saling kasih dan semangat ‎memberdayakan kaum tertindas berorientasi mutu yaitu dalam dua tataran : proses dan ‎hasil pendidikan.
Selanjutnya Rahim menjelaskan proses tersebut dalam suasana pembelajaran ‎yang aktif dan dinamis serta konsisiten dengan program dan target pembelajaran. Adapun ‎hasilnya adalah output yang berkualitas dalam kognitif, afektif dan psikomotorik dan ‎pluralis pada lembaga pendidikan Islam yang harus tercermin dalam kurikulum dan proses ‎pendidikan ‎ guna mewujudkan cita-cita umat Islam Indonesia menjadi ulama yang ‎cendikia atau cendikia yang ulama.‎
III.       KESIMPULAN
Analisa kebutuhan adalah bagian dari langkah pendekatan sistem dalam sebuah ‎menejemen. Kebutuhan total – kebutuhan yang terpenuhi = kebutuhan yang tidak terpenuhi.‎
Secara konseptual pendidikan Islam di Indonesia akan mampu eksis sekaligus ‎mampu menyesuaikan perkembangan zaman karena melihat Islam adalah agama yang ‎universal. Untuk mengembangkan strategi dan model pembelajaran pendidikan dengan ‎menggunakan pendekatan terpadu, diperlukan adanya analisis kebutuhan (needs assessment) ‎siswa dalam belajar pendidikan moral. ‎
Analisa kebutuhan tersebut berdasarkan pada kesenjangan yang dialami di dunia ‎pendidikan kaitannya dengan materi pendidikan agama Islam, kesenjangan itu dapat ‎dikelompokkan secara makro dan mikro.‎
Kajian ini masih hanya terbatas pada sisi kurikulum dan yang melingkupinya. ‎Kesenjangan yang bersifat pengembangan kebijakan madrasah belum dibahas secara tuntas.
Pada dasarnya, problematika pendidikan agama secara umum hanya mengedepankan aspek kognitif atau hasil pencapaian akhir terhadap suatu mata pelajaran. Hal ini belum mencapai aspek afektif, yaitu pembentukan sifat dan karakter siswa didik bagaimana siswa tersebut dapat menerapkan pelajaran yang telah didapat dan aspek psikomotorik yaitu pengembangan kreativitas. Untuk itu, entah bagaimana pengaplikasian pendidikan dalam kehidupan sehari-hari oleh para siswa.
Apalagi, pelajaran agama belum menjadi alat utama untuk menentukan lulus atau tidaknya siswa didik dalam suatu jenjang pendidikan. Inilah yang menurut siswa didik, pendidikan agama tidak terlalu penting sehingga cenderung diremehkan. Metode yang dilakukan oleh para guru agama juga menjadi salah satu faktor problematika pendidikan agama di sekolah. Oleh karena itu, untuk mengatasi problematika tersebut guru menjadi kunci penting, yakni bertindak dengan menggunakan metode yang tepat bagi kelancaran pembelajaran agama.

Hamalik, Oemar, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: UPI kerjasama dengan ‎Rosda Karya, 2006)‎

Nata, Abudin, Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, ‎‎(Jakarta: Prenada Media, 2003) ‎

Departeman AgamaRI, Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta : Tim Pengadaan ‎buku, 2001‎

Suara Merdeka. Edisi Selasa, 18 September 2007

Oleh: Busyro | September 30, 2009

Aliran Jabariyah

ALIRAN JABARIYAH
A. Pendahuluan
Teologi sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam, maka perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat yang tidak mudah di ombang-ambing oleh perubahan zaman.
Dalam istilah arab istilah-istilah ini disebut dengan Usul
Ad Din oleh karena itu buku buku yang membahas masalah ini diberi nama
kitab Usul Ad Din oleh pengarangnya. Ajaran-ajaran dasar ini disebut
juga Aqa’id atau credos atau keyakinan-keyakinan dan buku yang mengupas keyakinan-keyakinan itu diberi judul AlAqo’id Al-nasafiyah dan Al-Aqa’id Al-Adudiah.
Teologi dalam islam disebut juga ‘ilm Al-Tauhid kata
tauhid mengendung arti satu atau esa dan keesaan dalam pandangan islam sebagai
agama monoteisme, merupakan sifat terpenting diantara segala sifat-sifat tuhan,
selanjutnya teologi islam disebut juga ‘ilm al-kalam.
Teologi islam yang diajarkan di indonesia pada umumnya adalah teologi dalam bentuk ilmu tauhid, ilmu tauhid biasanya kurang mendalam dalam pembahasan dan kurang bersifat filosofis

B. Asal Usul Teologi Qodariyah
Dalam sejarah selama Nabi Muhammad SAW di Mekkah hanya sebagai kepala agama dan tak mempunyai fungsi sebagai kepala pemerintahan, baru kemudian setelah nabi hijrah ke madinah dan disanalah nabi menjadi kepala agama sekaligus kepala pemerintahan. Hingga akhir pemerintahan beliau Nabi Muhammad saw umat islam masih berbentuk kesatuan yang utuh dan baru kemudian pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib terjadi perpecahan yang diawali oleh peristiwa arbittrase sehingga muncul kelompok khawarij (keluar dari barisan umat islam yang memiliki sendiri bahwa :” Ali, muawwiyah, amr bin ash, abu musa al-asy’ari yang menerima
arbittrase adalah kafir maka darah mereka halal dan mereka telah berdosa besar
dan telah keluar dari islam tegasnya murtad karena itu wajib di bunuh.
Kelompok ini yang kemudian dikenal dengan kaum khawarij yang kemudian pecah menjadi beberapa bagian. . konsep kafir juga mengalami perubahan, yang dipandang kafir bukan lagi hanya orang yang tidak menentukan hukum dengan Al-Quran, tetapi yang berbuat dosa besar yakni murtakib al-kaba’ir yang dipandang kafir.
Persoalan yang berbuat dosa inilah yang kemudian membuat pengaruh besar pada pertumbuhan teologi selanjutnya dalam islam, persoalannya ialah masihkah ia dipandang sebagai mukmin ataukah ia sudah menjadi kafir karena telah berbuat dosa besar itu ?
Persoalan ini lah yang kemudian menimbulkan tiga aliran teologi dalam islam Pertama aliran Khawarij yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir dalam arti keluar dari islam dan tegasnya murtad oleh karena itu wajib dibunuh,
Kedua aliran Murji’ah yang menegaskan bahwa orang yang berbuat
dosa besar masih mukmin dan buka kafir. Adapun soal dosa yang dilakukannya terserah pada Allah SWT untuk mengampuni atau tidak.
Ketiga adalah aliran Mu’tazilah adalah aliran yang tidak menerima pendapat keduanya bagi mereka orang yang berdosa besar adalah bukan kafir dan bukan Mu’min, orang yang serupa ini kata mereka mengambil posisi diantara kedua posisi mukmin dan kafir yang dalam bahasa arabnya terkenal dengan Al-Manzilah Bain Al-Manzilitain (posisi diantara dua posisi)
Dari aliran ketiga di atas munculah dua aliran, yaitu :Jabariyah dan Qodariyah menurut Qodariyah : “Manusia memiliki kemerdekaan dalam berkehendak dan pebuatannya sedangkan Jabariyah sebaliknya “manusia tidak mepunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya, manusia dalam segala tingkah lakunya bertindak atas paksaan tuhan, segala gerak gerik manusia ditentukan oleh tuhan.
a. Asal usul Teologi Qadariyah
Nama jabariyah berasal dari kata “Jabara” yang memiliki arti “Memaksa” menurut Syahrastany bahwa Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakekat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT, Paham Jabariyah ditonjolkan pertama kali oleh Ja’d Ibn Dirham tetapi yang menyiarkanya adalah Jahm Ibn Shafwan dan Thalut Ibn Al-A`shom, Jahm adalah sekertaris dari Syuraih bin Al- Haris dari kaum Murji’ah, dan dialah yang mendirikan paham Al-Jamhiyah, ia turut dalam gerakan melawan kekuasaan bany Umayyah dalam gerakan perlawanan itu Jamh dapat ditangkap dan dihukum bunuh ditahun 131 H.
Menurut Jahm Ibn Shafwan : “Manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat apa apa; manusia tidak mempunyai daya, tidak mempunyi kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan, manusia dalam perbuatan-perbuatannya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya.
Dalam Hadits Nabi dikatakan :
الجبرية القائلة بسلب الإختيار من العباد وهم فرقة واحدة
Paham ini diduga telah ada sejak sebelum datang agama Islam kemasyarakat arab kehidupan bangsa arab yang diliputi gurun pasir sahara telah memberi pengaruh besar kedalam cara hidup mereka. Ditengah bumi yang disinari terik mata hari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata tidak dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, disana sini hanya tumbuh rumput keras dan beberapa pohon yang cukup kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara.
Dihadapan alam yang begitu ganas, alam yang indah, tetapi kejam merasa jiwa merasa dekat dengan Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang, Zat Pembina, Pemberi Petunjuk, Pemelihara dan Pelindung, dengan suasana alam yang demikian menyebabkan mereka tidak punya daya dan kesanggupan apa-apa melainkan semata-mata Patuh, Tunduk, dan Pasrah kepada kehendak Allah SWT.
b. Konsep pemikiran teologi Jabariyah dalam perbuatan Tuhan dan manusia.
Perbuatan-perbuatan diciptakan dalam di diri manusia, tak ubahnya dengan gerak yang diciptakan tuhan dalam benda-benda mati.oleh karena itu manusia dikatakan “berbuat” bukan dalam arti sebenarnya, tetapi dalam arti majazi atau kiasan tak ubahnya sebagaimana disebut, air mengalir, batu bergerak, matahari terbit dan lain sebagainya.
c. Ayat-ayat yang di jadikan dasar ajaran Teologi Jabariyah diantaranya :
1. Firman Allah dalam Surat Al-An`am
     
“Mereka Sebenarnya Tidak Akan Percaya Sekiranya Allah Tidak Menghendaki,” ( QS Al-An’am :112, )
                 •     
“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah “. (QS. Al_hadid : 22 )
C. PERBANDINGAN PEMIKIRAN TEOLOGI JABARIYAH DAN QADARIYAH
1. Ajaran Pokok Aliran Jabariyah
a) Masalah sifat Alloh swt. Jahm bin Shafwan tidak membenarkan Alloh swt diberi sifat-sifat yang terdapat pada makhluk-Nya. Yang demikian itu membawa penyerupaan Allah SWT dengan ciptaan-Nya. Namun diakui pula bahwa banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan Alloh swt mendengar, melihat, berbicara dan sebagainya. Ayat-ayat tersebut tidak dilihat secara lahiriyah (tekstual) melainkan dipahami secara konstekstual.
b) Tentang Surga dan Neraka. Surga dan neraka serta aktivitas penghuninya akan berakhir. Firman Allah SWT yang berbunyi (mereka kekal di dalamnya) disebutkan majas, bukan kekekalan yang sesungguhnya sebab yang kekal hanyalah Allah SWT. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman : Artinya : ” Mereka (penghuni surga dan neraka) kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali Alloh swt menghendaki yang lain …”.(QS. 11 : 107 – 108).Ayat tersebut menngandung syarat dan pengecualian kekekalan surga dan neraka. Bagi Jabariyah pahala dan siksaan pun merupakan paksaan karena didasarkan pada keyakinan bahwa manusia tidak memiliki pilihan dan daya. Manusia dalam paham ini hanya merupakan wayang yang digerakkan dalang.
c) Masalah Iman dan Kufur.Iman dan kekafiran bergantung sepenuhnya kepada keyakinan di dalam hati dan orang yang telah mengenal baik dengan Alloh swt kemudian ingkar dengan lidahnya tidak akan menjadi kufur karenanya. Bahkan juga tidak menjadi kafir sungguh pun ia menyembah berhala, menjalankan ajaran Yahudi atau Nasrani kemudian mati, bagi Allah SWT orang demikian tetap merupakan seorang mukmin yang sempurna. Firman Alloh swt :Artinya : “Bukanlah kamu yang menghendaki, tetapi Allohlah yang menghendaki”. (QS. Al-Ihsan : 30).
d) Tentang Qudrat dan Iradat Manusia.Manusia tidak mampu melakukan suatu perbuatan, tidak memiliki kemauan, kemampuan dan pilihan. Allah-lah pencipta semua perbuatannya sebagaimana terjadi pada benda-benda. Misalnya manusia membaca, menulis, mendengar maka hal itu sama saja dengan Allah SWT membuat pohon tumbuh, berbuah, air mengalir dan sebagainya. Firman Allah SWT :Artinya : “Dan Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”. (QS. As-Shaffat : 96).Ketika manusia dikatakan bahwa berbeda dengan benda mati karena manusia mempunyai kekuatan, kehendak dan pilihan, Allah-lah yang menciptakan dalam diri manusia kekuatan atau daya, kehendak dan pilihan yang dengannya manusia bertindak. Dengan melihat pendapat Jabariyah seperti yang disebutkan di atas, maka apakah artinya Allah SWT mengutus Rosul dan menurunkan al-Qur’an yang penuh dengan perintah, larangan, janji dan ancaman ? Tidakkah itu menjadi sia-sia belaka ? Semuanya itu tidak sia-sia, karena semuanya itu pun untuk menjalankan ketentuan Allah SWT. Keadaan itu tidak bedanya dengan Allah SWT menurunkan hujan, menerbitkan matahari, bulan dan sebagainya.
2. Ajaran Pokok Aliran Qadariyah
Ajaran pokoknya sebagaimana yang dikemukakan oleh Ghailan Al-Dimasyqi yaitu bahwa manusia berkuasa untuk melakukan perbuatan-perbuatan atas kehendak dan kekuasaannya sendiri dan manusia pula yang melakukan atau tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat atas kemampuan dan dayanya sendiri. Manusia tidak dikendalikan seperti wayang yang digerakkan oleh dalang tetapi dapat memilih.
D. KESIMPULAN
Menurut penulis solusi terhadap pandangan aliran Jabariyah dan Qodariyah yaitu bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan karenanya ia akan dimintai pertanggungjawaban atas keputusannya, meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. Dengan kata lain, kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur tangan Allah SWT, seperti seseorang yang ingin membuat meja, kursi atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu tersebut yang membuat adalah Allah SWT.Dalam masalah Iman dan Kufur ajaran Jabariyah yang begitu lemah tetap bisa diberlakukan secara temporal, terutama dalam langkah awal menyampaikan dakwah Islam sehingga dapat merangkul berbagai golongan Islam yang masih memerlukan pengayoman. Di samping itu pendapat-pendapat Jabariyah sebenarnya didasarkan karena kuatnya iman terhadap Qudrat dan Iradat Allah SWT, ditambah pula dengan sifat wahdaniat-Nya.
Sementara bagi qodariyah manusia adalah pelaku kebaikan dan juga keburukan, keimanan dan juga kekufuran, ketaatan dan juga ketidaktaatan.Dari keterangan ajaran-ajaran Jabariyah dan Qodariyah tersebut di atas yang terpenting harus kita pahami bahwa mereka (Jabariyah dan Qodariyah) mengemukakan alasan-alasan dan dalil-dalil serta pendapat yang demikian itu dengan maksud untuk menghindarkan diri dari bahaya yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan beragama dan mencapai kemuliaan dan kesucian Allah SWT dengan sesempurna-sempurnanya. Penghindaran itu pun tidak mutlak dan tidak selama-lamanya, bahkan jika dirasanya akan berbahaya pula, mereka pun tentu akan mencari jalan dan dalil-dalil lain yang lebih tepat. Demikian makalah dari kami yang berjudul “Jabariyah dan Qodariyah” kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan di masa mendatang.

E. PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

KH. M. Sya`roni Ahmadi, Al-Faraidus Saniah, Doktrin Ahlus Sunah, Penerbit Madrasah Qudsiyyah Kudus.
Nasution,harun.Teologi Islam, Aliran-Aliran Sejarah Analisis Perbandingan, Jakarta : UI pers
Prof. K.H.M Taib Thahir Abdul Mu’in, Ilmu Kalam, Jakarta, Widjaja, Cet. III, 1975

Oleh: Busyro | September 30, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.